Sabtu, Juni 12, 2010

membangun jaringan KOMLEK dalam penanganan Emergency respon secara terpadu

salam relawan... salam Tagana..

Sederhana saja, mencoba meninjau kembali cara-cara
berkomunikasi seperti apa yang cukup tepat untuk
dilakukan pada saat-saat darurat. Setidaknya ada tiga
prinsip komunikasi yang bisa terjadi:

1. point to point

Komunikasi di sini berlangsung dua arah antara satu
dengan satu yang lain. Masing-masing, antara pengirim
pesan dan penerima pesan harus menggunakan sarana dan
medium yang sama. Misal, pembicaraan antara dua orang
secara langsung (tatap muka), memakai telepon, atau
HP. Isi komunikasi yang terjadi pun sangat tertutup.
Pihak di luar kedua orang itu akan sangat terbatas
aksesnya terhadap informasi yang dikomunikasikan.
Kalaupun setelah itu keduanya mengomunikasikan hal-hal
yang dibahas sebelumnya kepada khalayaknya/ orang lain,
ada kemungkinan terjadi bias, penambahan, serta
pengurangan informasi yang disebarluaskan.

2. point to multipoint

Komunikasi di sini berlangsung dari satu pihak dan
diteruskan hingga bisa dicandra oleh banyak orang.
Gambarannya seperti orang ceramah, suara kentongan,
siaran radio, dan televisi. Informasi yang tersiar
bisa tersampaikan langsung kepada lebih banyak orang.
Namun, model ini merupakan komunikasi satu arah.
Termasuk ketika sesi interaktif dilangsungkan, ketika
penikmat siaran radio atau televisi bisa menyampaikan
pesan yang bisa disebarluaskan melalui media tersebut,
komunikasi yang terjadi dengan khalayak penyandra
media tersebut tetap berlangsung satu arah.

3. multipoint to multipoint

Komunikasi di sini berlangsung antara beberapa pihak
secara bersama-sama. Gampangnya seperti ngobrol
bareng. Sumber informasi bisa dari siapapun dan bisa
dicandra oleh siapapun juga. Oleh karenanya, data dan
informasi yang terkemas dan tersebar akan segera
terverifikasi dan tervalidasi. Komunikasi model ini
misalnya berlangsung melalui forum langsung (tatap
muka), radio komunikasi (Rig, HT), conference instant
messenger.

Semua jelas memiliki kekurangan dan kelebihannya
masing-masing. Maka dari itu, dipilihlah istilah
“tepat guna” untuk memilih model komunikasi
seperti apa yang bisa dibangun untuk menanggapi
situasi darurat. Dari obrolan dengan Mz Nasir, deputi
direktur kantorku, terpetakanlah tiga model komunikasi
di atas. Itu semua berangkat dari beberapa kasus dan
pengalaman yang kebetulan sudah dia dan kami alami.
Dan ternyata, canggih belum tentu bisa menjawab apa
yang sebenarnya kita butuhkan.


Beberapa bulan lalu kami dimintai tolong oleh
valunter untuk memfasilitasi pendirian radio komunitas
di kawasan bencana.Kawasan ketika semua jalur encom
putus maka cara tepat dan emergency lewat kumunikasi
freqwensi barulah bila kondisi memungkinkan kita juga
mengunakan hp.
Ketika ditanya dengan apa biasanya mereka
berkomunikasi satu sama lain. Mereka bilang dengan
mantap, “Jelas pakai HP, donk!”. Memang, HP di
kawasan ini sudah cukup tersebar merata dimiliki
penduduk hingga pelosok kawasan sekalipun. Bisa
dibilang, dari 10 KK, 8 KK pasti memiliki alat
komunikasi HP. Intensitas pemakaiannya pun tergolong
cukup tinggi, ratusan ribu hingga satu juta rupiah
sebulan untuk biaya pulsa. Tak ketinggalan ketika
mereka meronda, komunikasi pun dilakukan dengan
memakai HP. “Lalu, bagaimana jika situasinya
genting?”. Mereka hanya punya HP dan jelas harus
menelepon satu per satu ketika terjadi peristiwa
penting, seperti ancaman serangan gajah, termasuk
untuk koordinasi.
Ketika ditanya, “Kenapa tidak memakai radio
komunikasi, HT?”. Penampilan HT yang berukuran besar
menjadi masalah. Gampangnya, mending pakai HP saja,
lebih cepat. Namun, apakah benar bisa lebih cepat.
Mungkin juga karena hampir setiap orang memegang HP
dan bisa langsung mengontak yang lain ketika
diperlukan. Namun, apakah cukup efisien untuk
koordinasi yang lebih luas, dan cepat? Dengan HP,
masing-masing orang harus menelepon atau meng-SMS
orang satu per satu. Dengan menelepon, pembicaraan
hanya bisa terjadi di antara dua orang. Dengan SMS,
orang harus menunggu jawaban, tidak serta merta.

Hanya ada tiga HT pascagempa Sumatera
Bumi bergoyang di pesisir selatan Sumatera pada 12-13
September 2007 lalu, dan masih disusul dengan sejumlah
rangkaian gempa yang setara. Bahkan hingga saat
tulisan ini ditulis, baru saja terjadi gempa lagi
Painan, Sumatera Barat. Cukup besar, 5.2 skala
Richter. Muko-Muko, Bengkulu Utara menjadi tempat
pertama yang bisa dijangkau oleh tim, yang datang
untuk mengaktifkan akses internet di lokasi bencana
agar koordinasi bisa terbantu. Namun, tak tahu harus
bilang apa ketika melihat situasi di lapangan, hanya
ada 3 HT untuk kawasan satu kabupaten itu.

Penduduk setempat sudah mengungsi ke daerah perbukitan
di pedalaman, jauh dari pantai. Radius lima
pengungsian besar sekitar 15 km dari pusat kota
Muko-Muko. Posko Mediacenter yang didirikan di
Muko-Muko dan terakses dengan internet menjadi
satu-satunya sumber informasi gempa. Semua pihak ;
aparat dan warga, mengacu pada data BMG yang bisa
diakses dengan cepat di posko ini. Aparat
menyebarkannya dengan HP GSM masing-masing, yang juga
digunakan untuk koordinasi. Sementara, warga harus
bolak-balik kota dan pengungsian jika ingin melihat
data dan informasi gempa terbaru. Dan gempa susulan
pun masih susul-menyusul.
Sebagian warga masih ada yang bertahan di permukiman
mereka, tetapi tidak ada yang berani tinggal di dalam
rumah. Mereka memasang tenda di halaman rumah
masing-masing. Listrik pascagempa masih bisa menyala,
walaupun hanya beberapa jam saja sehari. Satu-satunya
sumber informasi yang mereka bisa akses adalah
televisi. Ketika gempa datang dan bantuan belum tiba,
mereka pun tak tahu apa pun, karena televisi itu hanya
menyiarkan informasi umum skala nasional. TV tak
selalu tahu apa yang terjadi di daerah mereka.
Padahal, informasi gempa diperlukan setiap saat di
lokal tersebut.

Darurat; perlu cepat, murah, merata, dan lokal
Sebelum membangun sistem informasi untuk penanganan
situasi darurat, kita memang harus tahu lebih dahulu
esensi dari situasi darurat, yaitu keadaan genting
yang memerlukan penanganan secepatnya. Ketika situasi
darurat terjadi, komunikasi yang baik sangat
diperlukan agar penanganan yang dilakukan bisa
efektif. Jika tidak maka yang terjadi adalah kekacauan
karena setiaporang bertindak berdasarkan versi
informasi yang ia dapat. Tak ada waktu banyak untuk
memverifikasi dan memvalidasi informasi yang didapat.
Begitu mendengar kabar ada air datang, semua lari naik
ke bukit, ternyata tidak terjadi tsunami dan mereka
kembali pulang. Begitu berulang-ulang. Cyape' de...
Jadi ingat ketika gempa terjadi di Yogya setahun yang
lalu. Semua panik mendengar kabar air laut naik ke
daratan. Ribuan orang lari ke utara, bahkan ada yang
hingga ke kaki gunung. Orang daerah lain yang
sebenarnya tinggal di kawasan perbukitanpun ada yang
lari mencari gunung untuk didaki. Mz Nasir punya
pengalaman, ketika itu dia cuma berusaha langsung
mencari informasi di mana pusat gempa. Begitu tahu
pusat gempa ada di selatan, paling tidak dia sudah
tahu akan menghindar ke arah mana jika terjadi hal
yang lebih buruk. Lebih jauh dari itu, informasi dari
berbagai sumber, terutama radio siaran tetap dipantau.
Kabar bahwa air di pantai selatan tak naik bisa
diketahui dan tak perlu panik karenanya. Langsung saja
radio di mobil diputar keras-keras agar orang-orang
yang berkumpul di sekitarnya dengan panik bisa ikut
mendengarkan kabar itu tanpa kemudian terus panik.
Temen-temen tim lain yang saat gempa di Yogya
kebetulan membawa HT pun juga terus memantau kabar dan
menyebarkan ke orang-orang di sekitarnya bahwa air tak
naik. Sekali rengkuh, banyak orang langsung tahu
informasi.

Memetakan Kebutuhan, Menentukan Media
Dari pengalaman-pengalam an itulah kemudian
terpetakanlah model-model komunikasi yang bisa
dikembangkan menghadapi situasi dan kondisi darurat.
Semua model bisa direncanakan jika kita sudah bisa
memetakan keadaan wilayah dan kebutuhan. Memang pada
saat ini sudah ada banyak media berteknologi canggih
yang bertebaran dan mudah diakses masyarakat, seperti
HP, telepon, hingga komputer terkoneksi internet.
Namun, untuk menghadapi skenario darurat maka kita pun
harus siap dengan skenario terburuk pula. Di masa
“tenang” kita bisa puas dengan komunikasi via HP
dan komputer terkoneksi internet, yg murah, cepat, dan
canggih. Namun, yang canggih ini belum tentu tepat
digunakan pada situasi darurat.
Pada intinya, semua infrastruktur setiap model
komunikasi yang ada idealnya bisa dipersiapkan sejak
awal. Model komunikasi point to point yang intensif
pada situasi darurat jelas hanya akan efektif di
tataran penentu kebijakan. Namun, komunikasi point to
point tidak efektif digunakan untuk komunikasi dalam
sistem peringatan dini. Sama sekali tidak efisien dan
mahal. Bayangkan jika harus menelepon satu per satu
orang untuk memperingatkan bahwa dalam beberapa menit
akan datang tsnumai menerjang kota.
Model komunikasi point to multipoint akan baik
digunakan untuk menyebarluaskan informasi kepada
khalayak. Komunikasi yang terbangun memang searah,
tetapi akan ada lebih banyak penerima pesan yang bisa
menangkap pesan. Sesuai karakternya sebagai media
siaran, penyebarluas tanda, model komunikasi ini
sangat kuat pada fungsi pemberitahuan semata;
mengumumkan bahwa telah terjadi kondisi tertentu yang
menuntut tindakan tertentu. Model komunikasi ini tidak
cukup intensif untuk mendukung koordinasi di lapangan,
terutama jika dihadapkan dengan sistem peringatan
dini.
Model komunikasi yang akan cukup efektif digunakan
pada situasi darurat dan memenuhi fungsi koordinasi
adalah model komunikasi multipoint to multipoint. Di
sini, pengirim dan penerima pesan adalah jamak, dan
juga serentak, satu waktu. Informasi yang tersebarkan
secara otomatis bisa langsung terverifikasi dan
tervalidasi karena komunikasi bisa berjalan dua arah.
Setiap point yang terlibat di sini pada akhirnya
menjadi access point untuk model komunikasi point to
multipoint atau point to point di wilayahnya
masing-masing. Tak menutup kemungkinan pula, dari
masing-masing point yang terlibat, bisa meneruskannya
ke model komunikasi multipoint to multipoint lainnya.
Di sini, sarana berupa internet dan radio komunikasi
(HT) menjadi pilihan. Namun, di situasi darurat
tampaknya tidak bisa terlalu mengharapkan keberadaan
koneksi internet yang tentu saja membutuhkan prasyarat
keberadaan infrastruktur yang lebih banyak. Jaringan
telepon, antenna, hingga infrastruktur internet
service provider lainnya sangat mungkin juga terkena
imbas bencana; rusak. Belum lagi ketika listrik padam.
Walaupun bisa menghidupkan komputer dengan tenaga
listrik dari generator, belum tentu bisa terkoneksi
dengan internet karena dengan GPRS pun belum tentu
bisa memperoleh sinyal. Dalam kondisi terburuk, paling
tidak harus ada akses langsung ke satelit dengan VSAT
(Very Small Aperture Terminal).

Membangun sistem informasi yang terpadu dan mengakar
Namun, pada dasarnya di sini tidak mencoba menghakimi
model komunikasi mana yang lebih baik daripada yang
lain. Sesuai dengan tujuannya, memetakan, maka di sini
hanya mencoba memilahnya sesuai dengan fungsi yang
tepat. Secara umum, semua model komunikasi itu bisa
digunakan dan bisa saling mendukung jika digunakan
pada konteks yang tepat.

Pada saat ini tim aku dan beberapa kawan lain
kebetulan sedang membangun sebuah sistem informasi
darurat untuk kondisi pascabencana (walaupun belum
bisa dipastikan apakah ini sudah berakhir) di
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. maka muncul tim
tim lain yang membangun infrastruktur penyedia koneksi
internet dengan menggunakan VSAT. Sebuah media center
di lokasi bencana dibangun dan di situ data-data gempa
terkini dan informasi peringatan dini lainnya bisa
diakses. Piranti lunak yang dikembangkan sebagai
sistem peringatan dini dengan mengacu pada data Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMG) pun menjadi acuan
warga dan aparat setempat untuk mengambil tindakan
yang tepat jika diperlukan.

Konvergensi Radio Komunitas, Transceiver VHF, SMS
Gateway, dan internet
Sistem canggih itu tak akan ada artinya jika hanya
berhenti sampai di situ. Media center hanya bisa
dibangun di satu atau dua lokasi saja karena
keterbatasan alat yang jauh dari murah itu. Alhasil,
masyarakat yang jauh dari media center pun bisa-bisa
tidak tahu apa-apa mengenai itu semua. Jika memaksakan
mau memakai komunikasi point to point dengan
menggunakan HP, sekali lagi tidak efektif, mahal, dan
belum tentu ada sinyal layanan selular di setiap
pelosok wilayah. Oleh karena itu, tim yang lain
membangun sistem informasi dan komunikasi dengan
menggunakan radio siaran serta radio komunikasi. Radio
komunitas atau radio siaran swasta yang ada di lokasi
bencana dihidupkan sebagai access point penyebarluas
informasi darurat. Studio radio bisa dihidupkan dengan
tenaga listrik dari generator jika listrik padam.
Sementara, pesawat radio penerima bisa cukup
menggunakan baterai dan bisa dipantau oleh masyarakat
sewaktu-waktu. Prinsip point to point lain, sekaligus
point to many (jika dihubungkan ke website), adalah
pemakaian sistem SMS gateway. Warga bisa mengirimkan
SMS untuk memberi informasi atau meminta informasi ke
posko. Pesan-pesan SMS itu juga bisa tertampilkan di
layar website.

Cara lain yang ditempuh adalah dengan menggunakan
radio komunikasi, berupa RIG atau HT. Peralatan
tersebut digunakan pula untuk menyebarluaskan
informasi darurat, sekaligus sebagai sarana
koordinasi. Koordinasi di sini bisa berupa koordinasi
untuk peringatan dini dan evakuasi. Tetapi, koordinasi
juga bisa dilakukan untuk kepentingan distribusi
bantuan. Alat yang diperlukan tidaklah terlalu mahal
jika dibandingkan dengan saraan komunikasi yang lain.
Bahkan sangat mudah dihidupkan hanya dengan
menggunakan tenaga listrik dari generator untuk RIG
dan baterai untuk HT. Setelah itu, komunikasi bisa
dilakukan setiap saat. Jika bermaksud agar jangkauan
komunikasi bisa lebih luas, cukup diakali dengan
antenna yang mencukupi kebutuhan. Di lapangan saat
ini, bahkan HT digunakan oleh tim kami dan pengelola
radio komunitas sebagai alat untuk melakukan wawancara
dengan warga dan disiarkan langsung melalui radio.


Oleh tagana 16050458 Ibrahim da silva
 



Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

engungsi letusan gunung kelud Ngotot Pulang, Relawan kebencanaan Kewalahan

 catatan kecil TRC TAGANA JATIM di Gonjang ganjing Gunung Kelud

salam relawan... salam Tagana.
 
KEDIRI, MINGGU 
Tenaga sukarelawan  ( Tagana, Satgana, Sar, BSMI, PMR dll )
merasa kewalahan menghadapi para pengungsi bencana letusan Gunung Kelud yang pulang meninggalkan tempat-tempat pengungsian. "Kami sudah kesulitan meyakinkan para pengungsi untuk tidak pulang, meskipun sampai saat ini Gunung Kelud tetap berbahaya," kata TRC Taruna Siaga Bencana (Tagana) Jawa Timur, Ibrahim Da silva di Ngancar, Kabupaten Kediri, Minggu (4/11).
kami mengaku tidak bisa berbuat banyak manakala para pengungsi yang pulang itu beralasan untuk memberi pakan ternak. Warga yang tinggal di KRB I rata-rata membudidayakan sapi perah selain bertani nanas dan cengkeh.
Oleh sebab itu TRC Tagana Jatim mendesak agar Satlak Penanggulangan Bencana Kabupaten Kediri segera merealisasikan janjinya untuk mengungsikan binatang ternak sesuai dengan lokasi yang sudah dipetakan sebelumnya.

Menurut kami (TRC ), proses evakuasi warga yang dilakukan timnya Sabtu (3/11) sore amat rumit lantaran sirine di Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Kelud di Dusun Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar tidak berbunyi.

Warga KRB I tetap menganggap bunyi sirine sebagai tanda peringatan Gunung Kelud sebentar lagi akan meletus. Namun sirine itu tak kunjung berbunyi saat Gunung Kelud memasuki fase letusan.

Hal itu terjadi lantaran pengamat dan tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telanjur panik dengan meninggalkan PPGA Margomulyo untuk mengamankan diri di Mapolsek Ngancar setelah menganggap terjadi letusan kecil di kawah Gunung Kelud tanpa terlebih dulu membunyikan sirine.

Bisa dibayangkan, bagaimana kacaunya suasana kemarin sore. Warga masih banyak yang di atas, sementara Tim Vulkanologi (PVMBG) sudah turun semua, demikian juga dengan petugas keamanan 

Sementara itu, sampai detik ini situasi di Desa Sugihwaras dan Desa Sempu terlihat lengang, meski ada beberapa orang pengungsi, terutama laki-laki yang pulang. 

"Tidak seperti biasanya, situasi pagi ini sepi sekali," ujar Darwanto, yang bertugas di Posko Sugihwaras.yang aku wawancari di pos pemantauan.

suasana di tempat-tempat pengungsian tidak seramai saat-saat Gunung Kelud mengalami kondisi kritis beberapa waktu sebelumnya.

Berdasar catatan Satlak PB Kabupaten Kediri, jumlah pengungsi pada Sabtu malam hingga pukul 21.00 WIB telah mencapai 1.335 kepala keluarga yang tersebar di beberapa lokasi pengungsian di empat kecamatan, Plosoklaten (147 KK), Wates (781), Puncu (126), dan Kepung (281).

Pada saat ini tercatat jumlah pengungsi yang sakit mencapai 79 orang dengan didominasi penyakit ISPA, diare, gastritis (lambung), dan malgia (pegal linu).
Sementara itu sebagian pengungsi memilih tinggal di rumah saudaranya ketimbang di tempat pengungsian yang kondisinya semakin semrawut.

Bu Sulasmi yang rumahnya berjarak sekitar delapan kilometer dari danau kawah Gunung Kelud  waktu aku wawancari di pos pantau "Kami memilih tinggal di rumah saudara di Ngadiluwih, biarkan bapaknya yang di tetap Margomulyo,"

      Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

Warga Besuki Tolak Tinggalkan Jalur Tol Gempol-Surabaya

 Kilas balik catatan kecil TRC Tagana Jatim di pos pengungsian lapindo

salam relawan... salam Tagana..

Sejumlah 749 warga Dusun Besuk dan 200 warga Ginonjo, Desa Besuki, 
Kec Jabon, Sidoarjo, yang menduduki km 40-40,6 jalur tol Gempol-Surabaya sejak Jumat (15/9) malam, menolak meninggalkan lokasi jalan tol. Mereka bahkan mendirikan tenda-tenda di pinggir jalan tol, sehingga jalan tol kedua arah terpaksa ditutup. 

Padahal Bupati Sidoarjo Win Hendrarso, Sabtu (16/9), sudah ke lokasi dan berusaha secara persuasif meminta warga segera meninggalkan lokasi tol dan pindah ke pengungsian di Pasar Baru Porong (PBP). 

ketika saya tanya warga korban semburan lumpur Lapindo itu, bersikeras mengungsi di lokasi tol. Akhirnya Bupati yang datang ke lokasi didampingi Kepala Dinas ESDM Prop Jatim, Made Sutarya, tidak bisa memaksa.

Alasan warga bertahan di badan jalan tol, menurut Astuti (26), warga RT 1 RW 5 Dusun Besuk, karena tidak mau meninggalkan lokasi rumahnya terlalu jauh, mengingat harta-benda mereka masih di rumah masing-masing. 

Bahkan dia bersama warga lainnya akan tetap bertahan di tenda darurat di jalan tol sampai air lumpur yang menggenangi rumahnya mengering. 

Sedangkan Unaini (51 tahun), warga RT 3 RW 4 Dusun Ginonjo, enggan dievakuasi ke pengungsian PBP, karena menurut dia, di lokasi pengungsian menurut keterangan sudah penuh.

Berdasarkan pantauan kami dari kaca mata relawan bencana , lokasi pengungsian di jalan tol sama sekali tidak memadai. Apalagi bagi balita dan manula. Warga hanya menggunakan tenda-tenda dari terpal plastik yang terbuka kanan-kirinya. 

Ada sekitar 20 tenda yang dipasang di pinggir jalan tol sisi barat (arah Gempol-Surabaya). Masing-masing tenda ditempati sekitar tiga KK. 

Di tempat ini tidak tersedia fasilitas MCK, pos kesehatan, persediaan air bersih, dan fasilitas lainnya, karena memang bukan tempat pengungsian.
Ibrahim da silva, wakil Koordinator Posko Tagana Jatim di PBP bencana lapindo mengatakan, pihaknya sejak kemarin sudah melakukan pendataan warga Besuk dan Ginonjo yang dievakuasi, karena jebolnya tanggul pembatas antara penampungan lumpur di pond 4 dan pond 5. 

Jebolnya tanggul lumpur tersebut, juga merendam SDN 34 Desa Mindi, SDN 99 Desa Besuki, TK Dharma Wanita Persatuan, pondok pesantren, dan SMK Jawahrul-Ulum, Balai Desa Besuki, dan Makam Islam Desa Besuki.
Menurut Bino Mariono, petugas Satlak PBP, pihaknya sekitar pukul 12.15 WIB mengirimkan 760 bungkus nasi dan 25 dos air mineral. 

"Saat ini kondisi penampungan pengungsi di PBP masih cukup menampung warga Besuki, Mindi, dan Pejarakan, karena baru terisi 800 KK. Sedangkan yang masih kosong sebanyak 135 kios yang per kiosnya mampu menampung 10-15 jiwa atau 3-4 KK. Jadi warga tidak usah khawatir" keterangan aku (ibrahim ) yang  aku berikan pada wartawan Jakarta time, BBC dan RCTI sore ini di posko tagana jatim di pengungsian lapindo.
 
Kapolsek Jabon, Iptu Satuji dan Danramil Jabon Kapt Art Kasdjuri menginformasikan, sejak kemarin pihaknya siaga penuh untuk berjaga-jaga menghindari terjadinya konflik horizontal antar warga. Selain itu, pengaman juga dibantu Brimob Polda Jatim, Yonif 516 Sidoarjo, Yon Arhanudse Gedangan Sidoarjo. 

tetap pada data yang di update oleh ibrahim  TRC Tagana 
JATIM (pos Pengungsian lapuindo ),

saat ini ada 749 jiwa warga RT 1-4 RW 5 Dusun Besuk yang terdiri dari RT 1 sebanyak 51 KK/224 jiwa, RT 2- 44 KK/184 jiwa, RT 3- 50 KK/192 jiwa, dan RT 4- 40 KK/149 jiwa. Sedangkan warga Dusun Ginonjo sebanyak 38 KK/200 jiwa dari RT 3/RW 4.


Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

Upaya pencarian korban ledakan pipa gas Pertamina di areal dekat semburan lumpur Lapindo kembali membuahkan hasil

salam relawan... salam Tagana..

 di sadur dari catatan harian TRC TAGANA JATIM di Lumpur lapindo medio 2007
 
Upaya pencarian korban ledakan pipa gas Pertamina di areal dekat 
semburan lumpur Lapindo kembali membuahkan hasil. Sekitar pukul 08.00 
kemarin, gabungan Tim SAR Mahameru Malang, Badan SAR Nasional 
(Basarnas) Surabaya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dengan TRCnya,
dan aparat TNI/Polri menemukan dua jasad korban.
Kedua korban itu adalah Kapten Hendro Priyono (Danramil Taman) dan 
Hartawan Adi Prasetyo alias Dodik (karyawan PT Guna Bangun Sarana). 
“Korban kami temukan menyangkut di pohon-pohon, dekat tanggul di 
depan pintu masuk menuju lokasi eks snubbing unit,” kata Koordinator Tim
 
Reaksi Cepat Ibrahim d silva dan Koordinator SAR 
TNI Letkol Inf Soedjono. 
 Saat ditemukan, kondisi jasad korban cukup mengenaskan. Kapten

Hendro 

hanya mengenakan celana panjang dengan luka terbuka sampai ke tulang


paha kanannya. “Tapi, sebagian besar jasadnya utuh.

semantara TRC dan SAR bahu membahu mecari korban yang lain. 

Diantaranya jasad Dodik ditemukan dalam keadaan berpakaian 

lengkap. Hanya, , sekitar 80 persen kulitnya melepuh. “Tapi, mungkin 

akibat tenggelam beberapa hari. Bukan akibat ledakan. Sebab, 
pakaiannya 
masih utuh,” 


Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 14.00, Tim SAR Dan TRC Tagana 

dan gabungan tim tim yang lain tersebut kembali menemukan jasad 

seorang korban atas nama Hario, karyawan PT Adi Karya. “Korban kami 

temukan dalam keadaan meninggal dunia dengan tubuh masih utuh, tidak 

jauh dari tempat jasad Kapten Hendro ditemukan.

Proses pencarian jasad ketiga korban cukup sulit. Sebab, lokasinya masih 

tergenang air dan lumpur. Menurut Soedjono, kedalaman genangan air bisa 
mencapai dua meter. Ketebalan lumpur bisa mencapai sekitar 1,5 meter.

“Untuk bisa menemukan jasad korban, kami harus mengaduk-aduk lumpur 

pakai ekskavator berponton,” “Ini seperti waktu kami menemukan jasad 

Pak Stefanus Prasetyo, yang dari Jasa Marga itu, tadi malam .

Dengan ditemukannya jasad Kapten Hendro, Dodik, dan Hario, jumlah 

korban tewas dalam insiden itu kini menjadi 11 orang. Sementara, korban 

yang dilaporkan hilang dan belum diketahui nasibnya masih dua orang 

lagi.
Yang satu adalah karyawan PNS Pemkot Surabaya Rudy Hari Triadi, warga 

Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera, yang juga tetangga Kapten 

Afandi (Danramil Balongbendo), korban tewas yang sudah dimakamkan 

sehari sebelumnya. Kemudian, yang seorang lagi belum diketahui 

identitasnya .  tidak tahu pasti identitas dua korban yang belum diketahui 

nasibnya itu. Tapi yang jelas, mereka semua orang sipil.

Satu di antaranya adalah tetangga Kapten Afandi,” 

,jika kedua korban yang belum diketahui nasibnya itu ternyata sudah 

tewas dan jasad mereka tertimbun endapan lumpur, sangat kecil 

kemungkinan jasad mereka dapat ditemukan.

, lumpur panas Lapindo yang meluber ke jalan tol, begitu mengendap 

dalam waktu sehari, langsung berubah menjadi sangat pekat. “Bisa jadi, 

jasad mereka terperangkap dalam timbunan lumpur,”.

Kendala lain, lanjutnya, adalah temperatur endapan lumpur yang masih 

cukup panas (sekitar 80 derajat Celcius). Dengan demikian, pencarian 

korban tak dapat dilakukan dengan cara menyelam.

Satu-satunya cara adalah dengan mengaduk-aduk lumpur menggunakan 

ekskavator berponton. Sayang, ekskavator berponton yang efektif cuma 

satu unit. Padahal, batas waktu pencarian tinggal empat hari lagi,

terhitung sejak kemarin. “Prosedur tetap pencarian korban bencana, jika 

dalam waktu seminggu sejak terjadinya bencana korban tidak ditemukan,

dia dianggap meninggal dan hilang

        Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

Kilas balik catatan TRC jawa timur di lumpur lapindo

Catatan kecil dari ibrahim da silva Tim TRC Tagana jatim
Salam relawan... salam Tagana..


 
Pencarian korban akibat ledakan pipa gas di Porong, Sidoarjo, dengan menggunakan perahu Kamis (23/11) ini dihentikan. Penghentian didasari kian pekatnya lumpur panas yang terus mengalir dari tanggul yang jebol di kilometer 38. Lumpur tersebut mengakibatkan endapan bertambah, sehingga gerak perahu terhambat.
Panasnya suhu lumpur juga dinilai membahayakan manusia karena panas terasa hingga di atas perahu. Karena itu, untuk sementara proses pencarian menggunakan perahu, baik perahu karet maupun perahu fiber, dihentikan. Sebagai gantinya, pencairan korban akan dilanjutkan dengan menggunakan ponton. Saat ini petugas sedang menyiakan tiga ponton, dua di antaranya adalah eskvator untuk mengeruk lumpur. Saat ini diperkirakan para korban masih terpendam di dalam lumpur.
Kamis pagi tadi proses pencarian korban yang melibatkan unsur Tim Emergency TNI Angkatan Daerat, Basarnas dan Taruna Siaga Bencana (Tagana)dengnan TRC-nya, yakni warga pemuda sekitar, terus dilakukan. Proses pencarian korban lewat udara dihentikan karena dinilai tidak efektif akibat besarnya semburan.
Di tengah proses pencarian korban tersebut, Kamis siang, sejumlah menteri mendatangi rumah Komandan Koramil Taman, Sidoarjo, Kapten Endro, salah satu korban ledakan pipa gas yang belum ditemukan. Sejumlah menteri yang datang adalah Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan General Manager Lapindo Brantas Imam Agustino. Mereka memberi ucapan bela sungkawa dan memberi santunan kepada keluarga korban. Lilis, istri Kapten Endro, tak kuasa menahan tangis saat menerima para pejabat tersebut di rumah duka, di perumahan Tanggualangin Anggun Sejahtera, Sidoarjo, Blok B-3 Nomor 1.(DOR)
Pencarian korban akibat ledakan pipa gas di Porong, Sidoarjo, dengan menggunakan perahu Kamis (23/11) ini dihentikan. Penghentian didasari kian pekatnya lumpur panas yang terus mengalir dari tanggul yang jebol di kilometer 38. Lumpur tersebut mengakibatkan endapan bertambah, sehingga gerak perahu terhambat.
Panasnya suhu lumpur juga dinilai membahayakan manusia karena panas terasa hingga di atas perahu. Karena itu, untuk sementara proses pencarian menggunakan perahu, baik perahu karet maupun perahu fiber, dihentikan. Sebagai gantinya, pencairan korban akan dilanjutkan dengan menggunakan ponton. Saat ini petugas sedang menyiakan tiga ponton, dua di antaranya adalah eskvator untuk mengeruk lumpur. Saat ini diperkirakan para korban masih terpendam di dalam lumpur.
Kamis pagi tadi proses pencarian korban yang melibatkan unsur Tim Emergency TNI Angkatan Daerat, Basarnas dan Taruna Siaga Bencana (Tagana), yakni warga pemuda sekitar, terus dilakukan. Proses pencarian korban lewat udara dihentikan karena dinilai tidak efektif akibat besarnya semburan.
Di tengah proses pencarian korban tersebut, Kamis siang, sejumlah menteri mendatangi rumah Komandan Koramil Taman, Sidoarjo, Kapten Endro, salah satu korban ledakan pipa gas yang belum ditemukan. Sejumlah menteri yang datang adalah Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan General Manager Lapindo Brantas Imam Agustino. Mereka memberi ucapan bela sungkawa dan memberi santunan kepada keluarga korban. Lilis, istri Kapten Endro, tak kuasa menahan tangis saat menerima para pejabat tersebut di rumah duka, di perumahan Tanggualangin Anggun Sejahtera, Sidoarjo, Blok B-3 Nomor 1.(DOR)


Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

Peran Masyarakat Dalam Penanganan Bencana

Peran Masyarakat Dalam Penanganan Bencana 
Oleh: 
Djoko Soenjoto Malik Ibrahim Da silva
Tagana 16.06.0458
 salam relawan... salam Tagana.. 

Bencana merupakan kejadian luar biasa yang menyebabkan kerugian besar bagi manusia dan lingkungan dan diluar kemampuan manusia untuk dapat mengendalikanya, disebabkan oleh faktor alam atau manusia atau sekaligus oleh keduanya. Bencana dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu bencana alam dan bencana sosial. Yang termasuk lingkup bencana alam adalah gempa (tektonik dan Vulkanik), tsunami, kekeringan, banjir, dan longsor. Sedangkan bencana sosial biasanya mencakup kejadian konflik, wabah penyakit, bencana teknologi, dan kebakaran. Baik bencana alam maupun bencana sosial telah, sedang, dan pasti terjadi di Indonesia mengingat kondisi geografis, geologis, dan sosial (demografis, idiologis, dan sosiologis) di Indonesia sangat rentan untuk terjadinya bencana. 

Penanganan bencana mencakup aspek mitigasi bencana (pencegahan), emergency saat terjadinya bencana, dan aspek rehabilitasi. Penanganan emergency targetnya adalah penyelamatan sehingga risiko tereliminir. Sedangkan rehabilitasi merupakan upaya mengembalikan pada kondisi normal kembali. 

Dampak bencana yang ditimbulkan dapat berupa kematian masal, terganggunya tatanan sosiologis dan psikologis masyarakat, pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, keterbelakangan, dan hancurnya lingkungan hidup masyarakat. Begitu besarnya risiko yang ditimbulkan oleh bencana ini, maka penanganan bencana menjadi sangat penting untuk menjadi perhatian dan tugas kita bersama. Tanpa kebersamaan, sangat sulitlah kita untuk mampu mengatasi dampak bencana. Karena pada kenyataanya, tidak ada satu pihakpun yang paling mampu menangani dampak bencana ini. 

Sisi Positif bencana 

1.Bencana mampu menggerakan solideritas masyarakat secara massive dan 
   spontan dengan kesadaranya sendiri. 
2.Bencana mampu menggugah kesadaran sosial dan nilai-nilai dasar  
   kemanusiaan secara universal. 
3.Bencana menjadi satu-satunya kejadian dimana masyarakat tanpa diminta, 
   langsung menunjukkan partisipasi dan pengorbanannya. 
4.Bencana dapat membangkitkan semangat kreatifitas masyarakat, sehingga 
   sangat mungkin akan menghantarkan pada kejayaan. 
5.Bencana dapat memupuk kebersamaan antar pihak, walau sesaat. 

Peran Masyarakat 
Dalam penanganan bencana peran masyarakat menjadi elemen yang paling penting. Karena kekuatan pemerintah semata sangatlah kecil jika dibandingkan dengan tantangan yang begitu besar. Peran masyarakat dalam penanganan bencana dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk : relawan lapangan dengan menyumbangkan tenaga dan keahlian, mobilisasi dana, dan akses fasilitas. 

Relawan 
Dalam penanganan emergency bencana, relawan mempunyai posisi dan peran yang sangat penting. Oleh karena itu relawan bukan sekedar sebuah kekuatan alternatif, tetapi menjadi alternatif utama. Tentu ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi relawan emergency bencana. Yang terpenting adalah kekuatan fisik dan keahlian. Fragmentasi keterlibatan relawan dalam penanganan bencana adalah sebagai berikut : 


1. Relawan sebagai donatur. Sesungguhnya masyarakat yang mendermakan dananya untuk membantu korban bencana, maka sejatinya iapun adalah relawan. Dana bahkan menjadi hal yang sangat penting untuk mendukung hasil maksimal penanganan bencana. 

2. Relawan sebagai penyumbang tenaga dan keahlian. Termasuk dalam kelompok ini adalah ahli evakuasi, ahli medis, jurnalis, ahli gizi, juru masak, tukang bangunan, psikolog, guru, seniman, dan lainya yang secara sukarela turun langsung membantu korban bencana di lapangan. 

3. Relawan sebagai penyedia fasilitas yang diperlukan dalam penaganan bencana. Misalnya ada relawan yang menyediakan sarana transportasi, menydediakan rumah atau kantornya untuk dijadikan markas posko kemanusiaan, dll. 

Kepemimpinan dalam Penanganan Emergency Bencana 
Salah satu syarat sukses penanganan emergency bencana adalah kepemimpinan. Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan adalah kebingungan, kehancuran, kerugian, dan malapetaka. Kepemimpinan yang dimaksud tentu selayaknya dari unsur pemilik otoritas (pemerintah). Keberhasilan semua elemen masyarakat dalam kancah bencana sangat tergantung keberadaan pemimpin. Namun justru hal inilah yang biasanya menjadi titik lemah penanganan bencana di Indonesia, termasuk kasus penanganan gempa dan tsunami di NAD khususnya pada saat-saat awal kejadian bencana. Kepemimpinan dalam penanganan emergency bencana haruslah mampu dengan cepat, tepat, dan berani mengambil keputusan, bersikap tegas, menjalankan sistem instruksi bukan diskusi. 

Manajemen Logistik 

Hal- hal penting yang harus diperhatikan dalam penanganan logistik bantuan : 

1. Pengadaan logistik bantuan harus sedapat mungkin berdampak pada pemberdayaan ekonomi lokal. Caranya adalah membeli logistik bantuan dari pelaku ekonomi lokal, khususnya para pelaku ekonomi menengah bawah. Ini akan mendorong perputaran ekonomi lokal menjadi stabil. Strategi seperti ini sangat efektif dan efesien karena selain memungkinkan bisa cepat tiba di lokasi bencana, kita juga tidak direpotkan oleh ribetnya masalah transportasi. 
2. Ragam logistik bantuan terutama untuk makanan dan sandang, hendaknya menyesuaikan dengan kultur yang berlaku di masyarakat korban bencana. Sebagai contoh, ternyata masyarakat Aceh tidak menyukai ikan sarden yang diawetkan. Kebanyakan pengungsi menukarnya dengan barang lain dengan para pedagang. Atau karena tidak segera dikonsumsi, banyak sarden yang menjadi kadaluarsa. Berdasarkan pengamatan kami di lapangan, ikan asin lebih mereka sukai daripada sarden. Dan ikan asin dengan mudah bisa dibeli dari para nelayan Aceh. 
3. Makanan memenuhi standar gizi. Korban bencana yang umumnya menghuni barak-barak penampungan alakadarnya, tentu menyebabkan keadaan fisik mereka sangat rentan. Oleh karena itu pilihan logistik makanan yang tidak mempunyai nilai gizi maksimum bisa menyebabkan malapetaka bagi korban. Data menunjukkan bahwa wabah penyakit dan kematian korban bencana banyak terjadi justru setelah mereka mengkonsumsi makanan yang tidak bergizi secara terus menerus. Mie instan misalnya bukanlah pilihan logistik yang aman untuk dikonsumsi secara terus menerus oleh pengungsi korban bencana. 

4. Pakaian yang diberikan sesuai kebutuhan dan tetap memperhatikan martabat korban sebagai manusia. 

Menggerakan elemen lokal dalam penanganan bencana 
Dalam menangani dampak bencana, baik pada tahapan emergency maupun tahapan rehabilitasi, sebaiknya menggerakan elemen lokal sebagai sumberdaya utama sepanjang itu masih dimungkinkan. Bahkan bisa menggerakan sebagian dari korban bencana itu sendiri. Dalam hal ini misalnya kebutuhan tenaga relawan lapangan bisa merekrut SDM lokal. Untuk menggerakkan elemen lokal tidaklah sulit, karena pada hakekatnya semua program yang kita ingin lakukan adalah kebutuhan mereka. Artinya menjadikan elemen lokal termasuk korban sebagai subjek, bukan objek. Prinsip ini akan jauh lebih maksimal hasilnya karena elemen lokal dan korban akan merasa memiliki terhadap program yang kita jalankan. 


Penutup 

Bekerja menangani bencana adalah bekerja yang sulit. Karena tidak ada yang benar-benar mampu mempersiapkan untuk kerja-kerja yang unpredictable. Sungguhpun demikian, mengadakan persiapan jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Oleh karena itu jika kita ingin menjadi masyarakat dan bangsa yang selalu siap menghadapi tantangan bencana, maka belajarlah tanpa henti dari banyak bencana yang telah terjadi.



Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

Ketergantungan kita pada teknologi berbasis angkasa, menimbulkan bencana baru yang diserta ancaman ini lebih dahsyat

salam relawan... salam Tagana..

ahaya matahari adalah berkah bagi manusia. Namun
kini, matahari bisa jadi biang kekacauan
telekomunikasi di bumi. Pasalnya, aktivitas baru di
matahari yang disebut Solar Cycle 24 terlacak oleh
lembaga atmosfer Amerika Serikat, NOAA (National
Oceanic and Atmospheric Administration) .

Bintik matahari pertama sebagai penanda awal aktivitas
tersebut dijumpai NOAA. Aktivitas ini akan berlangsung
dalam waktu 11 tahun dengan pembentukan bintik
matahari dan badai matahari yang kemungkinan memuncak
di tahun 2011 atau 2012. Menurut NOAA, aktivitas
tersebut bisa mengancam sistem komunikasi pesawat,
sinyal GPS (Global Positioning System) dan jaringan
ponsel di planet bumi.

Bintik matahari ini adalah sinyal awal badai matahari
yang intensitasnya akan terus meningkat dalam
tahun-tahun mendatang

Bintik matahari adalah sebuah aktivitas magnetis di
permukaan matahari. Bintik baru temuan NOAA itu
diidentifikasi sebagai #10.981 dan menjadi bintik
matahari terbaru yang terlihat sejak NOAA
menghitungnya mulai tahun 1972.

Menurut NOAA, dalam badai matahari, ada materi yang
bisa sampai ke bumi dan mengganggu sistem komunikasi,
sumber daya, sinyal GPS dan bahkan membahayakan
satelit. Pembicaraan via ponsel dan penarikan uang
dari ATM juga bisa terganggu.

"Ketergantungan kita pada teknologi berbasis angkasa
membuat ancaman ini lebih berbahaya. Peran NOAA sangat
penting untuk mengantisipasi gangguan ini,

Oleh tagana 16050458 Ibrahim da silva

Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

mengenal karateristik


salam relawan... salam Tagana..
Bencana banjir bisa di sebabkan oleh dua hal, bisa akibat dari ulah manusia maupun akibat dari fenomena alam yang ekstrim berupa hujan yang berkepanjangan. Penyebab paling utama dari bencana banjir adalah curah hujan yang berlebihan. Hujan mungkin terjadi secara musiman yang meliputi daerah-daerah yang luas, atau dari badai setempat yang menghasilkan curah hujan yang berintensitas tinggi. Sebagian banjir disebabkan oleh proses-proses laut dan atmosfir seperti El Nino Osilasi Selatan (baca: ENSO) atau arus udara yang berkecepatan tinggi. Lelehnya salju (untuk kasus di Negara 4 musim) adalah penyebab utama lain terhadap bencana banjir.

 Disisi lain aktifitas manusia juga bisa menjadi sebagai potensi terjadinya bencana banjir seperti penebangan hutan dan pemukiman yang semakin padat. Untuk penebangan hutan secara klasik, walaupun tidak tepat betul, yang dituduh sebagai biang keladi banjir adalah petani, yang menebang hutan dibagian hulu DAS. Pemukiman dan pemadatan tanah tidak memberikan kesempatan air hujan meresap ke tanah. Sebagaian besar menjadi aliran air permukaan. Apalagi didukung oleh sungai yang semakin dangkal dan menyempit bantaran sungai yang penuh sesak dengan penghuni, serta penyumbatan air didaerah hulu. Maka datanglah banjir. Padahal, sekali kawasan banjir, berikutnya akan lebih mudah banjir lagi. Karena pori permukaan tanah tertutup Lumpur sehingga air sama sekali tidak dapat meresap.
 Misalnya sebuah contoh kasus bencana banjir akibat aktifitas manusia yaitu perubahan peruntukan kawasan bandung,dari kawasan konservasi menjadi pemukiman, dari contoh kasus tersebut maka coba kita jelaskan lagi bagaimanakah manusia punya andil terhadap terjadinya banjir ? Aktifitas manusia penyebab terjadinya banjir antara lain :
 Penggundulan hutan dan hilanganya perakaran meningkatkan larian tanah permukaan. Erosiyang terjadi kemudian bisa menyebabkan sedimentasi di kanal-kanal sungai yang menurunkan kapasitas kanal-kanal tersebut.
 Tempat hunian yang berada di dataran banjir memberi andil terhadap bencana-bencana banjir yang membahayakan manusia dan aset-aset mereka. Akan tetapi, manfaat-manfaat ekonomi dari bertempat tinggal di dataran banjir melebihi dari bahayanya untuk beberapa masyarakat. Tekanan pertumbuhan penduduk dan terbatasnya lahan juga meningkatkan tempat hunian pada daerah dataran banjir.

 Pembangunan di daerah dataran banjir dapat juga mengubah saluran-saluran air yang jika tidak direncanakan dengan baik dapat memberikan andil terhadap terjadinya banjir.;
 Urbanisasi memberi andil terhadap banjir perkotaan melalui empat cara besar. Jalan-jalan dan bangunan-bangunan menutupi daratan yang menghambat penyusupan air sehingga larian air atas membentuk sungai-sungai buatan. Jaringan saluran air di daerah perkotaan bisa membawa air dan mengisi saluran-saluran alam lebih cepat dibanding dengan drainase alamiah, atau, mungkin drainase alamiah seperti itu tidak mencukupi dan airpun meluap. Atau, kanal-kanal buatan atau alami menjadi mengecil karena adanya puing-puing, atau terhambat oleh prasarana sungai, yang menghalangi drainase dan menggenangi daerah-daerah tangkapan air.
>
> Kegagalan mengelola atau mengatur sistim-sistim drainase, bendungan-bendungan dan perlindungan pinggir-pinggir dermaga di daerah yang rentan juga memberi andil terhadap terjadinya banjir.
>
>
> Potensi kerusakan banjir tergantung pada banyak faktor yang menentukan karakteristik-karakteristik penting dari kejadian banjir, seperti besarnya banjir, kecepatan serangan, dan lamanya kejadian banjir itu. Pertimbangan-pertimbangan utamanya adalah sebagai berikut:
 Sifat curah hujan atau sumber air . Hujan musiman bisa sangat tinggi dengan rangkain badai, yang menyebabkan banjir hujan angin barat daya. Hujan yang terkait dengan tekanan siklun musiman mungkin bisa berlangsung lama dan melanda daerah yang luas. Badai-badai lokal berintensitas tinggi, yang biasanya terjadi pada musim panas, dan lelehnya salju, biasanya pada musim semi, juga menghasilkan volume-volume air yang besar. Sumber-sumber lain air bisa dari pecahnya bendungan atau pipa-pipa air yang rusak.
 Karakteristik kolam drainase . Ukuran daerah drainase penting untuk mengestimasi dalamnya air dan durasi genangan air yang berkaitan dengan tingkat kerusakan terhadap bangunan-bangunan dan vegetasi selama terjadi banjir. Estimasi-estimasi kecepatan naiknya dan lepasnya air dari sungai merupakan dasar bagi peringatan dan peraturan-peraturan penentuan zona. Daerah-daerah tangkapan kecil bisa saja memiliki lereng-lereng yang terjal, yang menyebabkan cepatnya larian tanah permukaan atau banjir bandang. Kondisi-kondisi tanah juga penting terhadap kecepatan penyusupan air seperti misalnya kelembaban tanah, lapisan vegetasi, kedalaman salju, atau bentangan lapisan permukaan yang tidak dapat ditembus air.
 Velositas aliran air . Velositas tinggi dari aliran mungkin cukup kuat untuk bisa merongrong pondasi-pondasi bangunan dan bahkan lebih berbahaya ketika air itu membawa puing-puing, seperti batu, sedimen atau es. Kekuatan-kekuatan fisik yang dahsyat adalah ancaman terhadap kehidupan dan harta benda dan mungkin merusak fasilitas-fasilitas pembuangan sampah dan penyimpanan kimia yang bisa menyebabkan polusi lingkungan yang menyebar secara luas.
 Dikirim oleh: Tagana  NIAT 16.06.0458

Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered

Jumat, Juni 11, 2010

DISASTER MANAGEMNT seharusnya Masuk Kurikulum pendidikan sejak di SD hingga di jenjang pasca sarjana

Oleh Ibrahim Da silva Angg. : Tagana 16050458

salam relawan... salam Tagana.. 

Konseling dan Managemen Stres Pasca Bencana

 Jumlah bencana sudah bertambah 3 kali lipat dalam 30 tahun ini. Dikatakan terdapat sejumlah penyebab seperti pemanasan bumi dan masa aktif, gempa bumi. 
Perubahan jasmani dan rohani pasca bencana akan  mempengaruhi kehidupan yang  akan datang secara besar-besaran.  Ketika mengalami bencana, lebih baik melaksanakan survey dengan check list,  mengenai respon stress pasca bencana di dalam program pelajaran ini   sebagai persiapan trauma konseling jangka menengah-panjang.  

Trauma Konseling ada 2 (dua) jenis

1) konseling dengan empat   mata
2) Managemen stress dan trauma yang dilakukan di kelas secara kolektif. 

Dalam hal ini, akan dijelaskan sebuah contoh  

1. managemen trauma dan stres yang dilaksanakan di kelas.  
2. Usulan Pelajaran Managemen Stres untuk   Trauma  Penyusunan usulan pelajaran ini terdiri dari 

1) Pendidikan psikologis  
2) Pengalaman.

Untuk melihat apa yang dirasakan/dialami anak-   anak dari pelajaran ini, dianjurkan melakukan angket Daftar  Pemeriksaan Perasaan (12 hal) untuk 2 kali dalam 1 kali pelajaran. 
Daftar 1 Alur Usulan Pelajaran Managemen Stres untuk Trauma 

1)Pendidikan psikologis untuk stress dan trauma (15 menit)  
2)PTSR-ED (Angket reaksi stress pasca bencana) (15 menit) 
3)Memeriksa perasaan sekarang (5menit)  
4)Pengalaman dan Praktek
  1. Metode melemaskan perlahan utk istirahat 8 mn
  2. Cara Berusaha / berupaya dan refres perasaan (7 Menit )
  3. Praktek iktan batin manusia 7 mnt
  4. pemeriksaan perasaan sekarang dan kesan (3 menit)        

         Di papan tulis:  
  1. Kejadian (Stressor) Penerimaan
  2. Pengakuan Perubahan jasmani & Rohani (Reaksi stres) 
  3. Upaya & Penanganan  (Penanganan stres) 
  4. Kejadian sehari-hari 
  • Tarik napas
  • Presentasi
  • Pertandingan
  • Berkelahi
5. Rasa (Perasaan )      
  • Sekarang aman  Bencana
  • Nyawa terancam -gelisah, 
  • gejolak emosi, 
  • terkejut (terlalu sensitif)
  • menenangkan hati (trauma) 
  • takut jika ingat kembali (pengalaman ulang)
  • didengarkan cerita yg menakutkan (kecelakaan) 
  • menghindari (menghindari, mati rasa) (kotak ingatanyg membeku) 
  • praktek (kekerasan)  
secara bertahap pikiran yg negatif, pikiran yg konstruktif & positif , kematian orang tersayang:
Tidak terima –Kemarahan –Kesedihan – Depresi - Berkabung (kehilangan) (mati rasa, penolakan, kemarahan, depresi, putus asa) (Hidupkan di dlm hati)  

Bencana sekunder/stress dari kehidupan
kelelahan, kemarahan, tidak bergairah Cara berusaha yg bertahan lama Pengungsian, Rumah sementara  Pendapat dari peserta/murid disiapkan sebelumnya,

Saya rasa semuanya hebat karena berusaha walaupun mengalami hal-hal yang susah dan menakutkan. Hari ini, marilah kita bersama-sama berpikir tentang stress yang bernama bencana. 
Marilah kita mempelajari apa yang penting untuk kita dapat mengatasi dengan baik.”
  
  •  Ketika kita mengalami bencana sebagai stress besar
  •  terjadinya sejumlah perubahan di jasmani dan rohani.
  •  mempelajari bagaimana caranya untuk mengatasinya.


  1. Sebelum kita memikirkan stress dari bencana, marilah kita memikirkan stress seperti ujian, pertandingan, perkelahian, dan sebagainya.  
  2. Mungkin juga kita berdebar-debar jantungnya atau tegang pada saat ujian atau pertandingan yang penting.” 
  3. Ya, itu merupakan reaksi stress. Lalu, pada saat itu, kita  
  4. Betul, misalnya tarik napas dengan dalam… Ini disebut penanganan stres.” 
  5. Di dalam kejadian bencana, ada 3 unsur. Unsur pertama adalah ketakutan pada saat bencana, seperti ketakutan karena dikira mau mati. Kedua adalah kejadian kematian orang yang penting bagi kita karena bencana. Dan ketiga adalah bencana sekunder, yaitu perubahan kehidupan pasca bencana. Kehidupan di pengungsian dan rumah sementara itu sendiri bisa menjadi stress.” 
  6. Akan terjadi perubahan jasmani dan rohani terhadap tiga unsur kejadian tersebut.” (Jika sudah melaksanakan angket, “Kita sudah mengisi angket, dan diketahui juga terdapat berbagai perubahan jasman dan rohani. Mari kita simpulkan dulu.”) 
  7. terjadilah perubahan seperti: terkejut pada hal-hal yang kecil, berwaspada, gelisah, emosi yang bergelora, sudah tidur dsb.” 
  8. Ketika kita mengalami terancam nyawa, tubuh kita bereaksi dan tegang untuk berusaha mengatasi hal itu. Walaupun sudah aman, tubuh kita tetap bereaksi.” (Kesadaran yg keterlaluan) 
  9. Namun demikian, tidak masalah. Jika kita sudah mempelajari metode untuk menenangkan, kita bisa meredakan emosi dan ketegangan itu. Metode pernapasan atau metode untuk tegangkan tubuh dan melemaskan sekaligus. Mari kita praktekkan.” (menanyakan metode penanganan stress yang baik dari peserta dan sharing bersama-sama. “Ketika tubuhnya lelah, ketika susah tidur karena emosinya  bergelora, apa yang anda usahakan sendiri?”) 
  10. Lalu. Terjadilah reaksi seperti ‘takut ketika ingat lagi atau bermimpi buruk’. Sedangkan terjadi pula reaksi ‘tidak mau berpikir, tidak bisa ingat lagi, menghindari hal-hal yang berkaitan.’ Ini disebut ‘Ingatan (memori) yang membeku’. Di dalam hati kita terdapat kotak yang diisi oleh berbagai ingatan. Ingatan terancam nyawa itu berbeda dengan ingatan yang lain, bersifat membeku.
  11. Tapi tidak apa-apa, jika hal-hal yang menakutkan itu didengarkan oleh orang-orang terpercaya dengan baik, ingatan yang sudah membeku pun semakin mencair, sehingga walaupun ingat lagi pun bisa menerima dengan tenang.” 
  12. Ada pula reaksi seperti menghindari. Ini merupakan upaya untuk tidak ingat lagi hal-hal yang menakutkan itu dengan menghindari. Upaya  ini baik pada saat belum lama setelah bencana, namun demikian, jika berlangsung lama, menghambat kehidupan, karena hal-hal yang biasanya bisa dilaksanakan pun tidak bisa. Lalu, bisa jug kehilangan percaya diri. Selalu berpikir, ‘Dulu saya bisa ini, tapi setelah bencana tidak bisa lagi, ya saya usahakan untuk tidak memikirkan lagi. 
  13. Tapi tidak perlu khawatir, mencoba sedikit demi sedikit pada hal- hal yang dihindari. Ada metode yang bernama metode latihan secara tahap demi tahap.Sebagai contoh, jika ada anak yang ketakutan pada air setelah bencana tsunami, bisa dilaksanakan latihan dan konseling secara pribadi. 
  14. Ada pula dampak sekunder seperti stress dan kerugian. (Contoh: setelah terjadi gempa, hidup di rumah sementara). Tahu-tahun kelelahan tubuh menumpuk besar.”  2)PTSR-ED (Angket reaksi stres pasca  bencana) 
  15. Marilah kita melaksanakan angket yang timbul setelah bencana. Dengan demikian, laksanakanlah penanganan yang tepat terhadap reaksi stress diri sendiri. silahkan membaca aturan pelaksanaan angket di referensi.  3)memeriksa perasaan sekarang 
  16. Sekarang kita menge-check jasmani dan rohani pada saat ini.” (Melaksanakan pemeriksaan dengan Daftar Pemeriksaan Perasaan yg terdiri dari 12 hal.)  4)Pengalaman dan Praktek 
  17. Kadang kala kita mengalami kesulitan beristirahat/ tidur. Pada saat itu, laksanakanlah metode relaksasi untuk beristirahat. Metode ini dipraktekkan oleh atlet-atlet Olympiade. Metode Melemaskan secara Perlahan-lahan untuk istirahat/tidur(*Meluruskan badan) 
  18. Jika mengalami kejadian seberat itu, bias juga semangat belajar menurun. Namun demikian, pengalam seperti “wah, aku berhasil berkonsentrasi belajar pada saat sesulit itu!” akan menjadi daya hidup  walaupun demikian, bisa cepat lelah/cape.
  19. Namun demikian, tidak usah khawatir. Jika telah melengkapi cara berupaya yang bertahan lama, bisa mengatasi sambil mementingkan kondisi badan.Cara berupaya yang bertahan lama  
  20. Ada suatu hal yang penting ketika terjadi masalah untuk mengatasinya. Apa itu? [Menyapa sampai ada pendapat “dibantu oleh relawan/volunteer.Untuk mengatasi hal-hal yang begitu berat dan susah, yang penting adalah ikatan manusia dan manusia dan support untuk sesama.” penting juga support dan menyayangi antara sesama murid (keluarga, komunitas).”m
  21. menenangkan hati/perasaan. Metode Pernapasan dengan Image/Bayangan untuk  menenangkan
  22. Memang sangat menyedihkan, namun terjadi pula kejadian seperti kematian orang-orang yang kita pentingkan/sayangi.Tidak bisa menerima hal itu karena timbul perasaan seperti ‘tidak bisa percaya’ atau ‘tidak mungkin’. Kadang kala mengalami depresi, muncul kemarahan, dan berlangsung lama perasaan yang sedih dan pedih. Pada saat seperti itu, yang penting adalah menulis karangan atau menggambar memori bersama orang yang telah tiada itu dan sampaikanlah apa yang kita rasakan. Lalu, kita mengirim doa kepadanya. Yang penting adalah berdialog bersama orang-orang yang telah tiada itu. Jika anda menghadapi masalah, orang yang telah tiada itu mengatakan dan menyapa apa kepada anda? Jika kit memejamkan mata, orang itu memberi semangat kepada anda. Lalu, berbicaralah bersama dia. Orang itu selalu hidup di dalam hati anda.
  23. Hari  ini kita bersama-sama berpikir tentang jasmani dan rohani kita. Terakhir saya ingin sampaikah satu hal lagi tentang perubahan batin. Jika kita menghadapi sesuatu yang dahsyat, akan timbul pikiran negative (untuk anak SD: pikiran yang tidak bersemangat, buruk, dll). Sebagai contoh:’Karena aku buruk, maka terjad ini! (menyalahkan diri)’, ‘Tidak ada yang mau membantu saya…(rasa menyendiri)’, ‘Sebanyak apa pun aku belajar (bekerja), tidak ada gunanya jika terjadi seperti ini! (rasa tidak berdaya)’, ‘Tidak bisapercaya pada seseorang. (ketidakpercayaan)’ . Jika hati kita penuh dengan perasaan seperti itu, tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran (pekerjaan). Susah bermain dengan teman-teman dengan baik. Munculnya perasaan seperti ini merupakan suatu hal yang wajar, namun pikiran negatif itu bisa dirubah dan menjadi pikiran positif. Ketika terjadi gempa bumi besar di daerah Hanshin-Awaji, ada orang yan menjadi arsitektur untuk membangun rumah yang ampuh dan tidak akan roboh pada gempa, ada juga yang menjadi perawat karena ingin bekerja untuk menolong nyawa manusia. Kita manusia bisa mengubah pengalaman sedih dan pedih itu menjadi energi
  24. Pemeriksaan Perasaan Sekarang dan Kesa Memeriksa (check) perasaan anak-anak supaya mengetahui penerimaan pelajaran ini dari setiap anak, sekaligus minta menulis kesan. Metode Managemen Stres
 Metode Relaksasi untuk istirahat/tidur
 

  • Membengkokkan kedua pergelangan tangan  
  • Membengkokkan kedua pergelangan kaki, bagian yang lain relaks saja. Tetap tegangkan kedua pergelangan tangan, 
  • melemaskan kedua pergelangan kaki.Melekaskan kedua pergelangan tangan.  
  • Membengkokkan kedua  pergelangan tangan dan kaki. Lalu membuka bahu dan tegangkan punggung. 
  • Tegangkan kedua pergelangan tangan dan kaki, melemaskan bahu dan punggung.Tetap tegangkan pergelangan tangan,
  • melemaskan pergelangan kaki. 
  • Melemaskan pergelangan tangan.  Membengkokkan kedua pergelangan tangan, kaki, lalu tegangkan bahu dan punggung, tegangkan pinggang dan pantat. 
  • Kedua tangan dan kaki, bahu, punggung tetap ditegangkan, tapi 
  • melemaskan pinggang dan pantat. 
  • Melemaskan punggung dan bahu. 
  • Melemaskan kedua pergelangan kaki. 
  • Melemaskan kedua pergelangan tangan.  Membengkokkan kedua pergelangan tangan, kaki, lalu tegangkan bahu dan punggung, tegangkan pinggang dan pantat. 
  • Lalu tegangkan muka/wajah, menggigit keras gigi belakang, pejamkan mata dengan seksama. 
  • sekarang seluruh tubuh jadi tegang kan? Kedua tangan dan kaki, bahu, punggung, pinggang dan pantat tetap tegang saja, tapi melemaskan muka/wajah. 
  • Kedua tangan dan kaki, punggung, dan bahu tetap saja tegang, tapi melemaskan pinggang dan pantat. 
  • Melemaskan punggung dan bahu. 
  • Melemaskan kedua pergelangan kaki. 
  • Melemaskan kedua pergelangan tangan.  Sekarang seluruh tubuh sudah lemas. Sekarang tambah lemas lagi. 
  • Dengan perhatikan bagian-bagian tubuh yang masih tegang / belum lemas, kisa melemaskan lagi bagian itu. Mari kita rasakan!  ② Gerakan Penyegar (Gerakan yang menyegarkan pada saat berakhir) 
  • Jika sudah berbaring di tempat tidur dan mau tidur, bisa relak dengan Metode Melemaskan secara Perlahan-lahan atau Metode Pernapasan, silahkan tidur dan istirahat dengan baik saja. 
  • Namun demikian, waktu bangun dan harus melaksanakan sesuatu tetapi tetap tidak bersemangat, cobalah ‘Gerakan Penyegar’! Gerakan ini membuat kesadaran tambah jelas lagi dari keadaan yang relaks. 
  • membuka dan menggengam kedua telapak tangan berulang kali Lalu siku-siku pun dilipat, lalu diluruskan. Jika bisa, kaki pundiluruskan. Sambil kirim pesan ‘ayo, berjuanglah!’ kepada diri sendiri, lalu meluruskan badan. Lalu bukalah mata dengan jelas.
  • Metode Pernapasan Imajinasi Ada 3 (tiga) kunci untuk Metode Pernapasan.
  1.  Pertama adalah tarik napas adalah tegang, lepas berarti relaks. Maka, jika ingin tenang dan relaks, lepas napas lebih lama/pelan- pelan daripada tarik napas. Dengan hitungan 1, 2, 3: tarik napas, lalu 4: berhenti, 5,6,7,8,9,10: lepas napas. Begitulah irama yang perlahan-lahan untuk pernapasan. Kunci kedua adalah pernapasan dengan perut (abdominal). 
  2. Masukkan udara sampai ke perut, lalu keluarkan udara dari perut. Jika mengeluarkan udara, perutnya kempes, jika tarik napas, perutnya bisa mengembung. Itulah pernapasan dari perut (abdominal). Ketiga adalah menggunakan imajinasi dan pesan (message). Bersamaan dengan  napas yang dikeluarkan, bayangkanlah kelelahan dan rasa gelisah pun ikut keluar dari tubuh. 
  3. Sekarang ambil posisi yang relaks. (Misalnya sekarang berbaring di atas tempat tidur. Tapi, susah tidur. Tahu-tahunya pikir ini-itu. Nah, pada saat seperti itulah kita mencoba metode pernapasan ini!) (Petama, kita 

perhatikan seluruh bagian tubuh, mulai dari kepala sampai ujung kaki. Dahi, pipi, dagu, leher, kedua bahu, dada punggung, kedua lengan dan tangan, punggung, kedua paha, kedua betis kedua jari kaki… Jika ada rasa aneh, boleh digerakkan. Boleh jug posisi duduknya diganti. Sekarang kita memperhatikan perut. Jika tarik napas, perutny bagaimana? Bagaimana kalau ketika lepas? Silahkan perhatikan d cermati perutnya. Jika satu tangan ditaruh diatas perut, lebih jelas berubahan di perut Dengan irama yang anda suka, coba sekali keluarkan semua dengan pelan pelan. Jika sudah dikeluarkan dengan tuntas, secara alamia  tari napas yang dalam. Jika tarik banyak, perutnya mengembung. Lalu berhenti/stop sebentar, lalu mengerutkan bibir, lalu lepas denga pelan-pelan dan sedikit-demi sedikit Berhasil jika merasa kelelahan dan rasa gelisahnya keluar dari tubu bersama napas Dengan irama yang anda suka, bernapas dalam 2-3 kali, lalu kembali k pernapasan yang biasa Dengan pernapasan biasa pun membuat bahu semakin lemas dan badan pun semakin enak dan hangat. Itulah relaks Sekarang, dengan irama sendiri, lepas napas dengan pelan-pelan. Jika sudah keluar semua, tarik napas yang dalam secara alamiah. Lalu stop sebentar, lalu keluarkan dengan sedikit demi sedikit dan pelan-pelan supaya lepas napas yang dilepaskan berlangsung lama. Rasanya ketegangan tubuh semakin berkurang bersamaan keluarnya napas… 

2  Metode Gerak Imajinasi untuk berkegiatan –Cara Berupaya yan Bertahan Lama ketika berjuang, berjuan  sebaik-baiknya, tapi waktu istirahat, kita istirahat sebaik mungkin. (Pengalihan antara Berkegiatan da Beristirahat) Ketika berkegiatan, kita laksanakan kegiatan/aktivitas itu dengan rasa tegang yang secukupnya. Lalu waktu beristirahat, kita istirahat setelah meyakinkan keamanan disekitarnya. “Ketika ingin laksanakan sesuatu, posisi punggungnya tegak lurus. Lalu, setelah berolah raga atau belajar, ambil posisi yang enak, seperti bersandar, dll. Yang penting adalah pengalihan hati kita, yaitu ketika berupaya, ya berupaya dengan baik-baik, lalu untuk beristirahat, ya istirahat dengan baik juga.” “Sekarang kita ambil posisi tubuh yang lurus. Ketika berupaya (seperti berolah raga atau belajar), menegangkan tubuh. Sambil membayangkan sosok yang sedang berupaya untuk belajar, bekerja, atau berolah raga, tegangkan bahu. Naikkan (Bukakan) bahu, ditegangkan. Ketika ditegangkan, rasanya cape atau berat,  kan? Memang, ketika kita berupaya sesuatu, rasanya berat. Tapi, coba kita perhatikan, apakah ada bagian tubuh yang tahu-tahunya ikut tegang? Wajahnya tetap tersenyum saja ya. Lalu, coba kirimkan pesan kepada diri sendiri, “bisa nggak naikkan lagi?” Sekarang, melemaskan dengan pelan-pelan. Tapi posisi tubuh tetap lurus. Rasanya sudah selesai kerja seharian. Tapi mungkin masi merasakan sisa ketegangan tadi. Mungkin kita bisa merasakan, tadi memang sangat tegang. Lalu bersandar. Posisi istirahat. Sekarang kirimkanlah pesan positif kepada diri sendiri:”Kamu hebat ya!”  * Cara Berupaya yang bertahan Lama “Karena ada kejadian yang berat, maka mungkin juga jasmani dan rohani pun tegang dengan maksimal. Sebaliknya, mungkin juga sama sekali tidak bertenaga, lemas total. Sekarang, kita memeriksa cara berupaya.” (metode ini mungkin sebaiknya digunakan 1-2 bulan  kemudian setelah kelihatan kelelahannya. ) “Di tempat ini tidak bisa ari-lari, maka kita ekspresikan> ‘berupaya’> dengan gerakan menaikkan bahu. Ketika kita berupaya, meluruskan> punggung. Lalu, mengangkat bahu sebesar-besarnya, (sekitar 20> detik), saya diam saja, tapi anda harus berjuang terus!” (sekitar 20> detik) “Oke, sudah. Terima kasih. Ambil posisi yang enak saja. Bagaimana rasanya?” (diperkirakan ada kesan seperti ‘susah bernapas’, ‘berat’ dll.) Betul sekali ya. Berupaya adalah suatu tindakan yang berat. Namun demikian, berupaya itu sangat penting.”> “Sekarang begini: Menaikkan bahu sambil kirim pesan kepada tubuh diri> sendiri: ‘bernapaslah dengan baik-baik ya, tidak perlu tegangkan> bagian tubuh lain lho Coba naikkan bahu.”> “Naikkan bahu setinggi-tingginya, tapi bernapaslah>  dengan baik, dengan tenaga kecil laksanakan tugas yang besar, punggung dan kakinya ikut tegang tidak?” (sekitar 20 detik) Bagaimana kesan dari ke-2 kali ini? (diperkirakan ada responsi rasanya pendek sekali waktunya, jauh lebih> enak’,dll.) Betul sekali. Ketika kita bekerja pun ada cara yang bertahan lama. Walaupun terjadi kejadian yang berat pun kita tetap saja ada banyak urusan, membersihkan rumah, kerja, yang harus ditangani. Jika terlaksana itu, muncullah rasa percaya diri. Memang dalam perjalanan hidup ada juga tantangan berat. Pada saat itu, ingatlah cara berupaya tadi, lalu beri semangat kepada diri sendiri, ‘kamu pasti bisa mengatasinya  (3) Praktek Ikatan Batin Manusia Ketika terjadi sesuatu yang berat, ikatan sesama manusia sangat> penting dan berguna. Dorongan semangat dan pesan positif dari orang akan menarikkan tenaga dan semangat. Sekarang membuat pasangan (2 orang satu  kelompok). ---dengan jenis kelamin yg sama Orang di depan, akhir-akhir ini kurang semangat. Nampaknya ada kejadian yang susah. Orang di belakang akan memberi semangat kepadanya. Orang di depan yang kurang semangat ini, posisi tubuhnya seperti apa ya? Betul, jika tidak ada semangat, kepalanya tunduk, punggungnya bengkok. Orang yang di belakang menaruh tangan di bahu orang di depan dengan lembut, sambil memikirkan Ya, saya bersimpati atas apa yang kamu alami Tapi kita bermain lagi, belajar bersama-sama lagi! Anggaplah mengirim pesan yang hangat itu melalui tangan, lalu tempatkan tangan di bahu. Orang di depan mungkin merasa Kurasa kehangatang di bahu. Aku buka sendirian! Lalu, dia mencoba tarik napas yang dalam lalu melepaskannya dengan pelan-pelan. Orang di belakang merasakan temannya tarik napas yang dalam dan melepaskan dengan pelan-pela melalui gerakan bahu dengan jelas. Bersamaan dengan napas keluar, bisa juga  kelelahan tubuh dan rasa berat itu keluar juga. Orang di depan memunculkan sedikit semangat. Lalu, dia meluruskan punggung dan berusaha lagi. Orang di depan menaikkan dan membuka bahu. Dengan gerakan itu, dia mulai berusaha. Orang di belakang merasakan betul seperti apa perjuangan dari orang yang di depan. Lalu, melemaskan, wah, bisa berusaha sedikit walaupun ada kejadian yang berat itu! Mungkin juga orang di depan terasa demikian. Orang di belakang merasa lega, lalu melepaskan tangannya dari bahu, tapi sedikit demi sedikit, 1mm demi 1mm. Walaupun tangan sudah diangkat, namun tetap ada rasa selalu dibantu. Sekarang, orang di belakang berkata kepada orang depan: “Kau hebat ya. Nah, bagaimana rasanya? Coba kita menyampaikan kesan satu sama lain dengan singkat. Setelah sampaikan kesan, sekarang berganti posisi.    METODE PELAKSANAAN ANGKET & HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN  --  Kita tidak boleh memarahi anak yang tidak bias menjawab angket. -- Ciptakanlah suasana yang menenangkan dan nyaman ketika melaksanakan angket. Waktu melaksanakan angket, ada anak yang berpikir karena tidak bisa menulis, sehingga tangannya berhenti. Bagaimana kalau kita sebagai guru waktu itu berkata kepada anak itu seperti: Ayo tuliskanlah cepat- cepat! Sebenarnya, hal-hal yang tidak bisa ditulis itu memang ti waktu membagikan kertas angket: Tuliskanlah semuanya!atau Bagian in masih kosong, ayo isilah dengan cepat! Karena anak-anak merasa susah/berat ketika mengingat kembali soal tsunami, maka mereka berbicara dengan teman-teman atau menggerakkan badan ketika angket. Pada saat seperti itu, jangan memarahi anak itu seperti: “Jangan brisik! Diamlah!” Sebenarnya tidak masalah mereka mengerjakan sambil berbicara sedikit. Ketika anak-anak  menjawab> angket, kita harus membuat mereka relaks.  -- Laksanakanlah dengan relaks. Anak-anak, hari ini Ibu/Bapak guru meminta anak-anak mengingat kembali kejadian gempa bumi dan tsunami. Ada juga yang merasa sangat> takut dan sedih ketika ingat gempa dan tsunami, kan? Apakah ada yang merasa sedih? Jika merasa susah dan sedih, tubuh menjadi sangat kaku, dan keadaannya tegang. Pada waktu itu, harus melemaskan badan dengan relaksasi. Mari kita relaks dulu!  INI HANYA BUAH PIKIRAN , SELANJUTNYA TERGANTUNG BAGAIMANA PEMERINTAH TERUTAMA DUNIA PENDIDIKAN MENYIKAPINYA

Tim Kordinator Tagana Jawa timur By. Opered