salam relawan... salam Tagana..
Bangunan dari batu ini di atas puncak gunung beku di Ladakh India. Mei dan Juni, suhu memang naik di atas angka nol. Namun, untuk lebih dari 10 bulan setiap tahun, suhu dingin bisa mencapai -18°C.
Struktur di Chanh-La tiga jam perjalanan dari Leh itu dibangun oleh peneliti pertahanan India sebagai kubah penyelamat nomor dua di dunia setelah Svalbard Global Seed Vault di Norwegia. Svalbard Global Seed Vault dibangun lebih dari 2 tahun lalu di sebuah pulau Arktik.
Kedua kubah ini menyimpan benih untuk masa depan, sebagai cadangan jika terjadi bencana alam ataupun malapetaka yang disebabkan manusia.
Kubah Chang-La telah mendapat lebih dari 5 ribu sampel benih, di antaranya aprikot, kubis, wortel, kentang, lobak, tomat, barley, gandum serta banyak lagi. Beberapa benih akan menghasilkan senyawa anti-malaria, dan yang lainnya juga sebagai sumber bahan kimia alami anti-kanker
“Ini adalah jenis kegiatan dari bahtera Nuh,” kata William Selvamurthy, ilmuwan senior yang mengepalai divisi ilmu kehidupan di Organisasi Perkembangan dan Pertahanan Penelitian di India di mana mendanai kubah benih Chang-La.
Simpanan kubah benih ini dapat digunakan untuk menanam ulang tanaman yang hilang akibat tindakan alamiah atapun bencana oleh manusia dalam skala regional maupun global. “Kekeringan, banjir, perubahan suhu ataupun hama dapat merusak tanaman,” kata Selvamurthy.
Ide lokasi kubah benih di ketinggian Ladakh ini datang setelah adanya invasi belalang misterius setidaknya 5 tahun lalu.
“Ini merupakan serangan besar pertama belalang di Ladakh dan merusak tanaman barley begitu parah,” kata Shashi Bala Singh, direktur dari Defence Institute of High Altitude Research di Leh yang merupakan pusat penelitian untuk mengembangkan sayuran segar di Ladakh.
Meskipun Dewan Penelitian Pertanian India menyimpan repository gen tanaman nasional di New Delhi, namun biayanya sangat mahal jika benih disimpan dalam kondisi lembap panas, kata Selvamurthy.
Benih harus disimpan di bawah -18°C dalam kondisi kelembapan rendah untuk penyimpan jangka panjang. Di Chang-La, temperatur harus dibuat dalam suhu di bawah -18°C hanya pada saat musim panas, di akhir Mei dan di awal Juni.
“Kita saat ini sedang terfokus pada varietas tanaman unggul serta tanaman tradisional yang berkembang di Ladakh,” kata Singh. Namun sejalannya waktu, katanya kubah benih ini diharapkan dapat menerima contoh dari institusi agrikultural lain di India.
Deposito benih masih terhitung sedikit jika dibandingkan dengan kubah Svalbard di mana saat ini telah menyimpan lebih dari 500 ribu sampel baik beras asal India dan Malausia, hingga gandum dari Lebanon dan Afrika Selatan, serta sampel yang lain.
Kamis, Juni 03, 2010
Jelang 2012 Orang Mulai Bangun Bunker
salam relawan... salam Tagana..
Uang jutaan dolar dikeluarkan demi membangun satu tempat yang aman dari segala bencana yang, oleh banyak ahli kebumian, diperkirakan terjadi pada 2012.
Salah satu orang yang bersedia merogoh kocek adalah Steve Kramer. Ahli terapi pernafasan berusia 55 tahun ini memiliki rumah di puncak bukit yang damai di San Pedro dengan pemandangan pohon kelapa yang subur dan atap genting merah di atas laut yang berwarna biru kehijauan. Sebuah rumah yang sempurna untuk hidup di dalamnya.
Tapi, iya tidak pusa dengan rumah indahnya itu. Kenapa? Karena tak bisa menyelamatkannya dari serangan teroris, kerusuhan sipil, bom nuklir, gempa bumi, dan bencana lain yang ia duga muncul pada tahun 2012.
Oleh sebab itu, dia menghabiskan uang US$12.500 (Rp 114 juta) membangun tempat cadangan bagi dia dan keluarganya di tempat penampungan bawah tanah di dekat Barstow.
“Saya benci melepaskan semuanya dan hidup di bunker,” kata Kramer sambil melirik perahu layar di sisi Pasifik.
“Saya tidak mencoba untuk mengabdi pada kegelapan dan bencana, namun kita harus menyiapkan segalanya.”
Legions of Americans menggali halaman belakang untuk tempat berlindung dari bencana bom atom selama Perang Dingin. Saat ini dengan tingginya kekhawatiran soal serangan teroris pasca 9/11, generasi baru mulai mencari sistem perlindungan bawah tanah.
“Dalam beberapa cara, iklim politis kita memiliki kesamaan,” kata Jeffrey Knopf, profesor keamanan nasional di Naval Postgraduate Naval School, Monterey, California.
“Telah banyak muncul kecemasan yang berkembang soal bahaya teroris akan menyebarkan senjata nuklir dan ini akan berlipat ganda.”
Hal ini menjadi isyarat para pengusaha dan mulai bermunculan produk tempat tinggal untuk bertahan hidup.
Larry Hall telah mengajak para kliennya yang kaya untuk membuat apa yang disebut kondominium untuk bertahan hidup di bawah tanah, di Kansas. Dia menjelaskan bahwa tempat itu memiliki 15 lantai di bawah tanah dan per unitnya dijual sebesar US$1,75 juta (Rp 15,9 miliar).
"Setelah gempa bumi dan ledakan vulkanik, orang-orang menelpon, mengatakan segala sesuatu yang dikatakan akan mulai terjadi," kata Hall, seorang insinyur yang tinggal di Florida. "Itu membuat orang gugup."
Sedangkan Michael Wagner menjajakan pod pribadi untuk kelangsungan hidup yang ditujukan untuk orang berlindung dari gelombang tsunami. Penduduk Oregon ini mengatakan telah mendapatkan banyak pesanan sejak gempa bumi baru-baru ini melanda Haiti dan Chile.
Banyak yang percaya dan memilih berlindung dalam bunker beton bawah tanah. Namun beberapa termasuk ayah Steve Kramer, lebih suka duduk di teras dengan minuman dingin dan menonton bencana dahsyat datang.
Namun Steve Kramer memiliki rencana lain. "Kami bukan orang gila, tetapi kali ini harus takut," kata Kramer.
Dia membuat rute peta ke bungker, menyetok makanan kering dan mengajar anaknya berusia 12 tahun untuk naik sepeda motor trail jika mereka harus melakukan perjalanan off-road untuk sampai ke bunker.
Kramer berpikir orang lain akan mulai merasakan hal yang sama mendekati tahun 2012. Dan jika ia memiliki uang untuk memastikan bahwa keluarganya aman saat sesuatu terjadi, Kramer mengatakan, kenapa tidak menggunakannya?
"Ini masalah prioritas," katanya. "Keluarga saya ingin bertahan hidup."[
Uang jutaan dolar dikeluarkan demi membangun satu tempat yang aman dari segala bencana yang, oleh banyak ahli kebumian, diperkirakan terjadi pada 2012.
Salah satu orang yang bersedia merogoh kocek adalah Steve Kramer. Ahli terapi pernafasan berusia 55 tahun ini memiliki rumah di puncak bukit yang damai di San Pedro dengan pemandangan pohon kelapa yang subur dan atap genting merah di atas laut yang berwarna biru kehijauan. Sebuah rumah yang sempurna untuk hidup di dalamnya.
Tapi, iya tidak pusa dengan rumah indahnya itu. Kenapa? Karena tak bisa menyelamatkannya dari serangan teroris, kerusuhan sipil, bom nuklir, gempa bumi, dan bencana lain yang ia duga muncul pada tahun 2012.
Oleh sebab itu, dia menghabiskan uang US$12.500 (Rp 114 juta) membangun tempat cadangan bagi dia dan keluarganya di tempat penampungan bawah tanah di dekat Barstow.
“Saya benci melepaskan semuanya dan hidup di bunker,” kata Kramer sambil melirik perahu layar di sisi Pasifik.
“Saya tidak mencoba untuk mengabdi pada kegelapan dan bencana, namun kita harus menyiapkan segalanya.”
Legions of Americans menggali halaman belakang untuk tempat berlindung dari bencana bom atom selama Perang Dingin. Saat ini dengan tingginya kekhawatiran soal serangan teroris pasca 9/11, generasi baru mulai mencari sistem perlindungan bawah tanah.
“Dalam beberapa cara, iklim politis kita memiliki kesamaan,” kata Jeffrey Knopf, profesor keamanan nasional di Naval Postgraduate Naval School, Monterey, California.
“Telah banyak muncul kecemasan yang berkembang soal bahaya teroris akan menyebarkan senjata nuklir dan ini akan berlipat ganda.”
Hal ini menjadi isyarat para pengusaha dan mulai bermunculan produk tempat tinggal untuk bertahan hidup.
Larry Hall telah mengajak para kliennya yang kaya untuk membuat apa yang disebut kondominium untuk bertahan hidup di bawah tanah, di Kansas. Dia menjelaskan bahwa tempat itu memiliki 15 lantai di bawah tanah dan per unitnya dijual sebesar US$1,75 juta (Rp 15,9 miliar).
"Setelah gempa bumi dan ledakan vulkanik, orang-orang menelpon, mengatakan segala sesuatu yang dikatakan akan mulai terjadi," kata Hall, seorang insinyur yang tinggal di Florida. "Itu membuat orang gugup."
Sedangkan Michael Wagner menjajakan pod pribadi untuk kelangsungan hidup yang ditujukan untuk orang berlindung dari gelombang tsunami. Penduduk Oregon ini mengatakan telah mendapatkan banyak pesanan sejak gempa bumi baru-baru ini melanda Haiti dan Chile.
Banyak yang percaya dan memilih berlindung dalam bunker beton bawah tanah. Namun beberapa termasuk ayah Steve Kramer, lebih suka duduk di teras dengan minuman dingin dan menonton bencana dahsyat datang.
Namun Steve Kramer memiliki rencana lain. "Kami bukan orang gila, tetapi kali ini harus takut," kata Kramer.
Dia membuat rute peta ke bungker, menyetok makanan kering dan mengajar anaknya berusia 12 tahun untuk naik sepeda motor trail jika mereka harus melakukan perjalanan off-road untuk sampai ke bunker.
Kramer berpikir orang lain akan mulai merasakan hal yang sama mendekati tahun 2012. Dan jika ia memiliki uang untuk memastikan bahwa keluarganya aman saat sesuatu terjadi, Kramer mengatakan, kenapa tidak menggunakannya?
"Ini masalah prioritas," katanya. "Keluarga saya ingin bertahan hidup."[
Matahari Meleleh, Badai Siap Menerjang Bumi
salam relawan... salam Tagana..
NOAA baru saja mengeluarkan bukti baru berupa lidah api permukaan matahari yang meleleh. NOAA merupakan lembaga yang melakukan pengamatan cuaca luar angkasa setiap hari.
Bill Murtagh menghabiskan harinya mengamati matahari, tidak secara langsung tetapi melalui sebuah pusat pengawasan cuaca ruang angkasa di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Boulder, Colorado, Amerika Serikat .
NOAA juga merupakan sumber resmi menyangkut peringatan cuaca di luar angkasa dan pemimpin pusat aktivitas serupa di seluruh dunia. Lembaga ini juga bertugas mengeluarkan ramalan harian.
NOAA baru saja mengeluarkan bukti baru berupa lidah api dari permukaan matahari yang meleleh.
Pada kelompok jurnalis lingkungan Eropa Murtagh menjelaskan lidah api tersebut bisa menyebabkan badai geomagnetik yang mampu mempengaruhi garis transmisi listrik apapun di bumi.
Murtagh menyebutkan badai magnetik telah menyebabkan pemadaman listrik luar biasa luas di Montreal Kanada pada Maret 1989 dan membiarkan 6 juta orang tanpa aliran listrik selama lebih dari 9 jam.
Lidah api atau badai matahari pertama kali diobservasi oleh astronom Inggris Richard Carrington pada 1 September 1859. Pada malam itu, aurora luar biasa indah muncul di langit bumi dan sistem telegraf rusak, sebagai hasil badai geomagnetik yang dihasilkan lidah api tersebut.
NOAA menggunakan dua satelit untuk memonitor aktivitas harian matahari. “Jika kami melihat sebuah lidah api matahari, kami bisa memberikan peringatan yang cukup kepada pembangkit tenaga listrik. Dan masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk melindungi perangkat tersebut, sebagai contoh menunda perawatan selama beberapa hari hingga badai berakhir,” ujar Carrington
NOAA baru saja mengeluarkan bukti baru berupa lidah api permukaan matahari yang meleleh. NOAA merupakan lembaga yang melakukan pengamatan cuaca luar angkasa setiap hari.
Bill Murtagh menghabiskan harinya mengamati matahari, tidak secara langsung tetapi melalui sebuah pusat pengawasan cuaca ruang angkasa di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Boulder, Colorado, Amerika Serikat .
NOAA juga merupakan sumber resmi menyangkut peringatan cuaca di luar angkasa dan pemimpin pusat aktivitas serupa di seluruh dunia. Lembaga ini juga bertugas mengeluarkan ramalan harian.
NOAA baru saja mengeluarkan bukti baru berupa lidah api dari permukaan matahari yang meleleh.
Pada kelompok jurnalis lingkungan Eropa Murtagh menjelaskan lidah api tersebut bisa menyebabkan badai geomagnetik yang mampu mempengaruhi garis transmisi listrik apapun di bumi.
Murtagh menyebutkan badai magnetik telah menyebabkan pemadaman listrik luar biasa luas di Montreal Kanada pada Maret 1989 dan membiarkan 6 juta orang tanpa aliran listrik selama lebih dari 9 jam.
Lidah api atau badai matahari pertama kali diobservasi oleh astronom Inggris Richard Carrington pada 1 September 1859. Pada malam itu, aurora luar biasa indah muncul di langit bumi dan sistem telegraf rusak, sebagai hasil badai geomagnetik yang dihasilkan lidah api tersebut.
NOAA menggunakan dua satelit untuk memonitor aktivitas harian matahari. “Jika kami melihat sebuah lidah api matahari, kami bisa memberikan peringatan yang cukup kepada pembangkit tenaga listrik. Dan masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk melindungi perangkat tersebut, sebagai contoh menunda perawatan selama beberapa hari hingga badai berakhir,” ujar Carrington
Indonesia Negara Paling Rentan Bencana Alam
salam relawan... salam Tagana..
Jakarta – Indonesia, Bangladesh dan Iran adalah negara yang paling rentan terhadap bencana alam sehingga berada di urutan atas ranking bencana dunia, menurut studi yang dirilis pada Kamis (27/5).
Raksasa kembar Asia, China dan India bergabung bersama Indonesia, Bangladesh dan Iran dalam daftar 15 negara dari 229 yang dinilai masuk kategori berisiko ekstrem.
Indeks Risiko Bencana Alam dibuat oleh firma penasihat risiko Inggris, Maplecroft, sebagai basis data bencana yang terjadi dari 1980 hingga 2010.
Di dalam data tersebut tersimpan berbagai indikator, termasuk jumlah dan frekuensi kejadian, total kematian yang disebabkan oleh bencana dan angka kematian tersebut dibandingkan dengan populasi negara.
Bencana yang dimaksud terdiri dari gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, badai, banjir, kekeringan, tanah longsor, gelombang panas dan penyakit epidemik.
“Kemiskinan merupakan faktor penting di negara-negara di mana baik frekuensi maupun dampak bencana alam sangat kejam,” ujar analis lingkungan Maplecroft, Anna Moss.
“Minimnya infrastruktur ditambah kepadatan berlebihan dalam suatau area dengan risiko tinggi seperti dataran rawan banjir, muara sungai, lereng terjal dan tanah reklamasi menjadi penyebab tertinggi terjadinya bencana,” terang Moss.
Menurut kalkulasi Indeks Resiko Bencana Alam, Bangladesh telah kehilangan 191 ribu nyawa sebagai hasil bencana alam selama 30 tahun terakhir dan Indonesia hampir memiliki jumlah yang sama, mayoritas korban jatuh ketika Indonesia dihantan tsunami pada bulan Desember 2004.
Sementara faktor kerentanan paling besar Iran adalah gempa bumi, di mana diklaim hampir 74 ribu nyawa melayang selama terjadi peristiwa tersebut.
India masuk ranking ke-11dengan total 141 ribu telah terenggut termasuk 50 ribu akibat gempa bumi, 40 ribu karena banjir, 15 ribu epidemik dan 23 ribu badai. Sedangkan China berada di posisi ke-12, dengan 148 ribu nyawa, di mana 87 ribu diantaranya hilang ketika gempa Sichuan 2008 berlangsung.
Negara-negara yang berada dalam kelompok G8 dipertimbangkan sebagai ‘berisiko tinggi’, turun kategori dari ‘ekstrem’.
Prancis di posisi 17 dan Italia 18, masuk dalam daftar akibat kematian massal akibat gelombang panas di tahun 2003 dan 2006, serta Amerika Serikat yang dikejutkan badai topan Katrina pada 2005.
Negara-negara yang memiliki risiko paling kecil di antaranya Andorra, Bahrain, Gibraltar, Liechtenstein, Malta, Monako, Qatar, San Mario dan Uni Emirat Arab.
Sebagian besar ahli menunjukkan peringatan tentang dampak perubahan iklim. Gangguan pola cuaca diprediksi mendorong episode bencana dengan frekuensi dan skala lebih besar menyangkut kekeringan dan banjir.
“Penelitian kami menekankan kebutuhan negara paling sejahter untuk fokus kepada upaya pencegahan dan penanganan agar resiko bencana bisa dikurangi,” ujar Moss dilansir dari Yahoonews.
Jakarta – Indonesia, Bangladesh dan Iran adalah negara yang paling rentan terhadap bencana alam sehingga berada di urutan atas ranking bencana dunia, menurut studi yang dirilis pada Kamis (27/5).
Raksasa kembar Asia, China dan India bergabung bersama Indonesia, Bangladesh dan Iran dalam daftar 15 negara dari 229 yang dinilai masuk kategori berisiko ekstrem.
Indeks Risiko Bencana Alam dibuat oleh firma penasihat risiko Inggris, Maplecroft, sebagai basis data bencana yang terjadi dari 1980 hingga 2010.
Di dalam data tersebut tersimpan berbagai indikator, termasuk jumlah dan frekuensi kejadian, total kematian yang disebabkan oleh bencana dan angka kematian tersebut dibandingkan dengan populasi negara.
Bencana yang dimaksud terdiri dari gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, badai, banjir, kekeringan, tanah longsor, gelombang panas dan penyakit epidemik.
“Kemiskinan merupakan faktor penting di negara-negara di mana baik frekuensi maupun dampak bencana alam sangat kejam,” ujar analis lingkungan Maplecroft, Anna Moss.
“Minimnya infrastruktur ditambah kepadatan berlebihan dalam suatau area dengan risiko tinggi seperti dataran rawan banjir, muara sungai, lereng terjal dan tanah reklamasi menjadi penyebab tertinggi terjadinya bencana,” terang Moss.
Menurut kalkulasi Indeks Resiko Bencana Alam, Bangladesh telah kehilangan 191 ribu nyawa sebagai hasil bencana alam selama 30 tahun terakhir dan Indonesia hampir memiliki jumlah yang sama, mayoritas korban jatuh ketika Indonesia dihantan tsunami pada bulan Desember 2004.
Sementara faktor kerentanan paling besar Iran adalah gempa bumi, di mana diklaim hampir 74 ribu nyawa melayang selama terjadi peristiwa tersebut.
India masuk ranking ke-11dengan total 141 ribu telah terenggut termasuk 50 ribu akibat gempa bumi, 40 ribu karena banjir, 15 ribu epidemik dan 23 ribu badai. Sedangkan China berada di posisi ke-12, dengan 148 ribu nyawa, di mana 87 ribu diantaranya hilang ketika gempa Sichuan 2008 berlangsung.
Negara-negara yang berada dalam kelompok G8 dipertimbangkan sebagai ‘berisiko tinggi’, turun kategori dari ‘ekstrem’.
Prancis di posisi 17 dan Italia 18, masuk dalam daftar akibat kematian massal akibat gelombang panas di tahun 2003 dan 2006, serta Amerika Serikat yang dikejutkan badai topan Katrina pada 2005.
Negara-negara yang memiliki risiko paling kecil di antaranya Andorra, Bahrain, Gibraltar, Liechtenstein, Malta, Monako, Qatar, San Mario dan Uni Emirat Arab.
Sebagian besar ahli menunjukkan peringatan tentang dampak perubahan iklim. Gangguan pola cuaca diprediksi mendorong episode bencana dengan frekuensi dan skala lebih besar menyangkut kekeringan dan banjir.
“Penelitian kami menekankan kebutuhan negara paling sejahter untuk fokus kepada upaya pencegahan dan penanganan agar resiko bencana bisa dikurangi,” ujar Moss dilansir dari Yahoonews.
Anggaran PB di tingkat Pemerintah Pusat (Kementrian/Lembaga)
salam relawan... salam Tagana..
Kawan-kawan pelaku dan pemerhati PB,
Pada tanggal 15 Mei 2010 dilakukan "*Diskusi Perencanaan Anggaran PB
pada Pemerintah Pusat*" di Sekretariat MPBI dengan narasumber Rinto
Andriono, IDEA. Acara ini dihadiri oleh 10 orang peserta dan dimoderasi
oleh Djuni Pristiyanto. Diskusi ini merupakan sebuah awal dari
serangkaian diskusi utk mengembangkan wacana PB dan menggiatkan
penyelenggaraan PB agar sesuai dengan semangat dan isi dari UU No. 24
Tahun 2007 mengenai Penanggulangan Bencana.
*Notulensi "Diskusi Perencanaan Anggaran PB pada Pemerintah Pusat" dapat
diunduh dengan bebas di Website MPBI disini
.*
Adalah sangat menarik mendengarkan paparan Rinto Andriono yang
menganalisis Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2010. Menurut Rinto,
penanggulangan bencana (PB) dalam Prioritas RKP 2010, yaitu pada
"*Sasaran peningkatan kualitas pengelolaan sumber daya alam dan
kapasitas adaptasi perubahan iklim*". Ada 5 (lima) point dalam bagian
ini, antara lain:
1. Meningkatnya kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan
bencana alam.
2. Meningkatnya pelaksanaan rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam.
3. Meningkatnya pengelolaan DAS di 18 unit DAS dan meningkatnya
pengelolaan irigasi.
4. Meningkatnya upaya pengelolaan sumber daya kelautan.
5. Meningkatnya operasionalisasi RTRWN, RTR Pulau, RTRWP, RTR Kab/Kota.
Dalam RKP 2010 itu ada anggaran-anggaran dari Kementerian/Lembaga (K/L),
termasuk BNPB. *Total anggaran BNPB mencapai Rp 222,062 Milyar*.
Anggaran BNPB ini terdiri dari
1. Belanja pegawai Rp 11,03 Milyar
2. Belanja barang Rp 132,8 Milyar
3. Belanja modal Rp 14,9 Milyar
4. Belanja hibah Rp 19 Milyar
Sementara itu anggaran K/L yang memuat hal-hal yg spesifik PB antara lain:
* Program pencarian dan penyelamatan Rp 348,402 Milyar (dilakukan
oleh BNPB).
* Belanja barang Rp 6,796 Milyar, Belanja modal Rp 341,606 Milyar.
* Lebih terfokus pada pengadaan kendaraan untuk pencarian dan
penyelamatan, tidak memadai jika diandalkan untuk merespon
kebutuhan PB nasional.
* Program pemulihan daerah yg terkena bencana nasional Rp 169,269
Milyar (dilakukan oleh Bappenas).
* Ada 3 komponen: pengembangan sistem manajemen PB nasional,
penanggulangan pasca bencana alam dan kerusuhan sosial, monitoring
pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.
* Program ini terbatas mengintervensi kebutuhan pasca bencana,
padahal komponen pengembangan sistem PB dibutuhkan justru sebelum
bencana.
Di samping itu ada anggaran dari K/L yang potensial relevan untuk
pengurangan risiko bencana (PRB), seperti:
* Program peningkatan ketahanan pangan Rp 3,008 Trilyun
* Program upaya kesehatan masyarakat Rp 2,010 Trilyun
* Program pengembangan konservasi danau dan sumber daya air Rp 2,229
Trilyun
* Program penataan adminduk Rp 494,133 Milyar
* Program peningkatan kerjasama antar daerah Rp 9,2 Milyar
* Program pengendalian pencemaran Rp 910 Juta.
* Program penataan ruang Rp 2, 283 Trilyun
Dalam RKP 2010 program BNPB hanya ada satu, yaitu "Program pencarian dan
penyelamatan". Hal ini mungkin disebabkan karena:
* Paradigma BNPB masih berupa respon (emergency).
* BNPB tidak dapat menyakinkan K/L, khususnya Bappenas dan
Kementrian Keuangan sehingga hanya ada satu program itu yang
disetujui.
Ternyata sangat menarik mendiskusikan mengenai anggaran PB ini. Untuk
selanjutnya agendanya adalah:
* *Hari, tanggal: Kamis, 27 Mei 2010*
* *Pukul 13.00-16.00 WIB*
* *Tempat: Sekretariat MPBI, Jl. Kebon Sirih No. 5G, Jakarta Pusat*
* *Agenda: Diskusi Perencanaan anggaran PB (APBD) pada
Pemerintah Daerah
*
* *Narasumber: Didik Mulyono, Oxfam GB dan Sunarjo, IDEA. *
Diskusi mengenai perencanaan anggaran PB ini merupakan satu rangkaian
diskusi yg diadakan oleh MPBI pada bulan Mei - Juni 2010. Agenda lengkap
diskusi ada di bagian bawah email. Acara ini terbuka lebar bagi siapa
saja yang berminat dengan isu-isu penanggulangan bencana maupun bagi
mereka yang belum tahu dan ingin tahu mengenai isu-isu yang menjadi
subtopik diskusi tersebut. Kegiatan ini tidak dipungut biaya alias gratis.
Kawan-kawan pelaku dan pemerhati PB,
Pada tanggal 15 Mei 2010 dilakukan "*Diskusi Perencanaan Anggaran PB
pada Pemerintah Pusat*" di Sekretariat MPBI dengan narasumber Rinto
Andriono, IDEA. Acara ini dihadiri oleh 10 orang peserta dan dimoderasi
oleh Djuni Pristiyanto. Diskusi ini merupakan sebuah awal dari
serangkaian diskusi utk mengembangkan wacana PB dan menggiatkan
penyelenggaraan PB agar sesuai dengan semangat dan isi dari UU No. 24
Tahun 2007 mengenai Penanggulangan Bencana.
*Notulensi "Diskusi Perencanaan Anggaran PB pada Pemerintah Pusat" dapat
diunduh dengan bebas di Website MPBI disini
Adalah sangat menarik mendengarkan paparan Rinto Andriono yang
menganalisis Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2010. Menurut Rinto,
penanggulangan bencana (PB) dalam Prioritas RKP 2010, yaitu pada
"*Sasaran peningkatan kualitas pengelolaan sumber daya alam dan
kapasitas adaptasi perubahan iklim*". Ada 5 (lima) point dalam bagian
ini, antara lain:
1. Meningkatnya kapasitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan
bencana alam.
2. Meningkatnya pelaksanaan rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam.
3. Meningkatnya pengelolaan DAS di 18 unit DAS dan meningkatnya
pengelolaan irigasi.
4. Meningkatnya upaya pengelolaan sumber daya kelautan.
5. Meningkatnya operasionalisasi RTRWN, RTR Pulau, RTRWP, RTR Kab/Kota.
Dalam RKP 2010 itu ada anggaran-anggaran dari Kementerian/Lembaga (K/L),
termasuk BNPB. *Total anggaran BNPB mencapai Rp 222,062 Milyar*.
Anggaran BNPB ini terdiri dari
1. Belanja pegawai Rp 11,03 Milyar
2. Belanja barang Rp 132,8 Milyar
3. Belanja modal Rp 14,9 Milyar
4. Belanja hibah Rp 19 Milyar
Sementara itu anggaran K/L yang memuat hal-hal yg spesifik PB antara lain:
* Program pencarian dan penyelamatan Rp 348,402 Milyar (dilakukan
oleh BNPB).
* Belanja barang Rp 6,796 Milyar, Belanja modal Rp 341,606 Milyar.
* Lebih terfokus pada pengadaan kendaraan untuk pencarian dan
penyelamatan, tidak memadai jika diandalkan untuk merespon
kebutuhan PB nasional.
* Program pemulihan daerah yg terkena bencana nasional Rp 169,269
Milyar (dilakukan oleh Bappenas).
* Ada 3 komponen: pengembangan sistem manajemen PB nasional,
penanggulangan pasca bencana alam dan kerusuhan sosial, monitoring
pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.
* Program ini terbatas mengintervensi kebutuhan pasca bencana,
padahal komponen pengembangan sistem PB dibutuhkan justru sebelum
bencana.
Di samping itu ada anggaran dari K/L yang potensial relevan untuk
pengurangan risiko bencana (PRB), seperti:
* Program peningkatan ketahanan pangan Rp 3,008 Trilyun
* Program upaya kesehatan masyarakat Rp 2,010 Trilyun
* Program pengembangan konservasi danau dan sumber daya air Rp 2,229
Trilyun
* Program penataan adminduk Rp 494,133 Milyar
* Program peningkatan kerjasama antar daerah Rp 9,2 Milyar
* Program pengendalian pencemaran Rp 910 Juta.
* Program penataan ruang Rp 2, 283 Trilyun
Dalam RKP 2010 program BNPB hanya ada satu, yaitu "Program pencarian dan
penyelamatan". Hal ini mungkin disebabkan karena:
* Paradigma BNPB masih berupa respon (emergency).
* BNPB tidak dapat menyakinkan K/L, khususnya Bappenas dan
Kementrian Keuangan sehingga hanya ada satu program itu yang
disetujui.
Ternyata sangat menarik mendiskusikan mengenai anggaran PB ini. Untuk
selanjutnya agendanya adalah:
* *Hari, tanggal: Kamis, 27 Mei 2010*
* *Pukul 13.00-16.00 WIB*
* *Tempat: Sekretariat MPBI, Jl. Kebon Sirih No. 5G, Jakarta Pusat*
* *Agenda: Diskusi Perencanaan anggaran PB (APBD) pada
Pemerintah Daerah
*
* *Narasumber: Didik Mulyono, Oxfam GB dan Sunarjo, IDEA. *
Diskusi mengenai perencanaan anggaran PB ini merupakan satu rangkaian
diskusi yg diadakan oleh MPBI pada bulan Mei - Juni 2010. Agenda lengkap
diskusi ada di bagian bawah email. Acara ini terbuka lebar bagi siapa
saja yang berminat dengan isu-isu penanggulangan bencana maupun bagi
mereka yang belum tahu dan ingin tahu mengenai isu-isu yang menjadi
subtopik diskusi tersebut. Kegiatan ini tidak dipungut biaya alias gratis.
Rabu, Juni 02, 2010
Badai Hancurkan 60.000 Rumah di India & Bangladesh, 33 Orang Tewas
ARE YOU READY
Badai ganas menerjang wilayah India timur dan Bangladesh. Sedikitnya 33 orang tewas akibat badai itu. Lebih dari 60 ribu rumah hancur diterjang badai.
Serangan badai menerjang distrik utara di negara bagian West Bengal, India, sekitar 600 kilometer sebelah utara Kolkata dan daerah Rangpur, Bangladesh.
"Sebagian besar korban tertimpa reruntuhan tembok-tembok rumah mereka," kata menteri pertahanan sipil negara bagian West Bengal Srikumar Mukherjee, seperti diberitakan kantor berita AFP, Rabu (14/4/2010).
Diimbuhkannya, 50 ribu rumah telah hancur di India.
Di Bangladesh, dua orang tewas termasuk seorang perwira polisi yang tertimpa tembok yang roboh. Menurut administrator distrik Rangpur, B.M. Enamul Haq, badai merusak lebih dari 11.000 rumah-rumah di distrik Rangpur.
"Ini badai dahsyat dan kami masih meneliti kerusakan," ujarnya.
Serangan badai ini terjadi di tengah suhu udara yang sangat tinggi di sebagian wilayah India utara. Di banyak daerah, suhu udara telah mencapai di atas 40 derajat Celcius.
Badai ganas menerjang wilayah India timur dan Bangladesh. Sedikitnya 33 orang tewas akibat badai itu. Lebih dari 60 ribu rumah hancur diterjang badai.
Serangan badai menerjang distrik utara di negara bagian West Bengal, India, sekitar 600 kilometer sebelah utara Kolkata dan daerah Rangpur, Bangladesh.
"Sebagian besar korban tertimpa reruntuhan tembok-tembok rumah mereka," kata menteri pertahanan sipil negara bagian West Bengal Srikumar Mukherjee, seperti diberitakan kantor berita AFP, Rabu (14/4/2010).
Diimbuhkannya, 50 ribu rumah telah hancur di India.
Di Bangladesh, dua orang tewas termasuk seorang perwira polisi yang tertimpa tembok yang roboh. Menurut administrator distrik Rangpur, B.M. Enamul Haq, badai merusak lebih dari 11.000 rumah-rumah di distrik Rangpur.
"Ini badai dahsyat dan kami masih meneliti kerusakan," ujarnya.
Serangan badai ini terjadi di tengah suhu udara yang sangat tinggi di sebagian wilayah India utara. Di banyak daerah, suhu udara telah mencapai di atas 40 derajat Celcius.
Badai Agatha Terjang Amerika Tengah, 100 Orang Lebih Tewas
http://tagana-jatim.blogspot.com
erjangan badai tropis hebat yang terjadi di Amerika Tengah selama akhir pekan ini menewaskan lebih dari 100 orang, serta menimbulkan kerusakan bangunan yang parah.
Badai Tropis Agatha, yang setiap tahun menyerang wilayah Amerika Tengah, terutama di Guatemala saat ini telah menewaskan sedikitnya 92 orang. Sementara 54 orang lainnya hilang.
"Di antara korban yang tewas adalah empat anak yang terjebak di sebuah rumah yang tersapu tanah longsor, kata para pejabat setempat seperti dilansir AFP, Selasa (1/6/2010).
Menurut pejabat setempat, data terakhir korban menunjukkan ada sekitar 115, dengan perincian 92 korban tewas di Guatemala, dan 14 lainnya di Honduras serta 9 di El Salvador.
Puluhan ribu orang saat ini mengungsi di tempat penampungan, baik karena rumah mereka hancur atau warga yang dievakuasi lantaran tempat tinggalnya berpotensi mengalami kebanjiran.
Bantuan internasional mulai berdatangan. Beberapa lembaga donor menghimpun bantuan lewat situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.
(anw/anw)
erjangan badai tropis hebat yang terjadi di Amerika Tengah selama akhir pekan ini menewaskan lebih dari 100 orang, serta menimbulkan kerusakan bangunan yang parah.
Badai Tropis Agatha, yang setiap tahun menyerang wilayah Amerika Tengah, terutama di Guatemala saat ini telah menewaskan sedikitnya 92 orang. Sementara 54 orang lainnya hilang.
"Di antara korban yang tewas adalah empat anak yang terjebak di sebuah rumah yang tersapu tanah longsor, kata para pejabat setempat seperti dilansir AFP, Selasa (1/6/2010).
Menurut pejabat setempat, data terakhir korban menunjukkan ada sekitar 115, dengan perincian 92 korban tewas di Guatemala, dan 14 lainnya di Honduras serta 9 di El Salvador.
Puluhan ribu orang saat ini mengungsi di tempat penampungan, baik karena rumah mereka hancur atau warga yang dievakuasi lantaran tempat tinggalnya berpotensi mengalami kebanjiran.
Bantuan internasional mulai berdatangan. Beberapa lembaga donor menghimpun bantuan lewat situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.
(anw/anw)
Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena beberapa komponen pemicu, ancaman, dan kerentanan bekerja bersama secara sistematis. Ada beberapa pemahaman yang perlu dipertegas sebelum melihat kasus per kasus dari berbagai bencana yang terjadi akhir akhir ini. Yakni Dari sisi manajemen bencana (Disaster management), yaitu relasi antara bencana (disaster), pemicu (trigger), ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability) dan risiko (risk ).
Sementara Negara Indonesia masih belum siap dan mampu menghadapi serta menangani kejadian-kejadian bencana skala besar dan menengah. Setidaknya, di level software (disaster Management) dan level hardware (Insfatruktur Fisik), serta permasalahan kesiapan kelembagaan bencana, kapasitas dana, infrastruktur kebijakan, ketiadaan perencanaan kontingensi bencana di level propinsi dan kabupaten, sarana dan prasarana memang belum siap untuk bencana besar Yang akan datang.
Godaan politis untuk “mengalamiahkan sebuah bencana” yang sesungguhnya anthropogenic akan terus dilakukan seiring dengan ketidak siapan pemerintah dalam mengalokasi sumber daya nasional dan lokal yang tepat dalam penanggulangan bencana. Bencana tidak pernah terjadi tiba-tiba. Gempa bisa tiba-tiba terjadi, tetapi jarak antara gempa dan bencana cukup panjang. Banjir dan tanah longsor bukan bencana yang tiba-tiba dan diperlukan proses yang panjang dan bukan karena faktor hujan semata, namun Politik dan kekuasaan yang didukung technical science dengan visi social-humanis yang kerdillah yang membuat sebuah bencana seolah terjadi menjadi serba mendadak.
Belajar dari pengalaman bencana sebelumnya, serta dengan adanya “International Disaster Reduction Day 2004” dan Undang Undang Disaster international, maka pemerintah dan masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menerapkan hal tersebut. walaupun reformasi telah bergulir 9 tahun, dan ketika kita lihat angka angka yang menakjubkan dalam lingkaran bencana seperti halnya : lebih dari 170,000 orang meninggal dunia, lebih 1.000.000 orang menjadi pengungsi internal, jumlah lapangan kerja yang hilang mencapai ratusan ribu, lebih dari 140 Triliun Rupiah kerugian langsung, membuat penduduk yang tidak miskin menjadi miskin, dan yang miskin turun peringkat ke sangat miskin dengan estimasi kerugian ekonomi Indonesia sedikitnya telah kehilangan lebih dari 14 triliun Rupiah, yang seharusnya bisa dipakai untuk investasi pelayanan social dasar dan pengurangan kemiskinan.
Sementara Negara Indonesia masih belum siap dan mampu menghadapi serta menangani kejadian-kejadian bencana skala besar dan menengah. Setidaknya, di level software (disaster Management) dan level hardware (Insfatruktur Fisik), serta permasalahan kesiapan kelembagaan bencana, kapasitas dana, infrastruktur kebijakan, ketiadaan perencanaan kontingensi bencana di level propinsi dan kabupaten, sarana dan prasarana memang belum siap untuk bencana besar Yang akan datang.
Godaan politis untuk “mengalamiahkan sebuah bencana” yang sesungguhnya anthropogenic akan terus dilakukan seiring dengan ketidak siapan pemerintah dalam mengalokasi sumber daya nasional dan lokal yang tepat dalam penanggulangan bencana. Bencana tidak pernah terjadi tiba-tiba. Gempa bisa tiba-tiba terjadi, tetapi jarak antara gempa dan bencana cukup panjang. Banjir dan tanah longsor bukan bencana yang tiba-tiba dan diperlukan proses yang panjang dan bukan karena faktor hujan semata, namun Politik dan kekuasaan yang didukung technical science dengan visi social-humanis yang kerdillah yang membuat sebuah bencana seolah terjadi menjadi serba mendadak.
Belajar dari pengalaman bencana sebelumnya, serta dengan adanya “International Disaster Reduction Day 2004” dan Undang Undang Disaster international, maka pemerintah dan masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menerapkan hal tersebut. walaupun reformasi telah bergulir 9 tahun, dan ketika kita lihat angka angka yang menakjubkan dalam lingkaran bencana seperti halnya : lebih dari 170,000 orang meninggal dunia, lebih 1.000.000 orang menjadi pengungsi internal, jumlah lapangan kerja yang hilang mencapai ratusan ribu, lebih dari 140 Triliun Rupiah kerugian langsung, membuat penduduk yang tidak miskin menjadi miskin, dan yang miskin turun peringkat ke sangat miskin dengan estimasi kerugian ekonomi Indonesia sedikitnya telah kehilangan lebih dari 14 triliun Rupiah, yang seharusnya bisa dipakai untuk investasi pelayanan social dasar dan pengurangan kemiskinan.
Minggu, Mei 30, 2010
Laporan dari Tim Reaksi Cepat Tagana jatim 16.06.0458 /YC9UBI/3: Banjir di Situbondo, Jawa Timur.
Dear rekan2 yg budiman,
Beberapa hari yl sewaktu saya memantau kegiatan relawan2 kita di Rejoso, Pasuruan, Mas Kardi YB1TC via SMS meminta saya untuk memantau kegiatan di gunung Agung, Bali. Setelah relawan2 dari Malang, Probolinggo dan Pasuruan menyelesaikan tugasnya di Rejoso hari Minggu yl, menyusul beberapa hari kmd YC9UBI/3 pak Ibrahim Da Silva bersama tim TAGANA-JATIM kembali ke Sby.
Beberapa hari setelah itu saya memantau kegiatan tim SAR, tim2 pecinta alam dari beberapa propinsi dan tim IARES dari Banten di Pura Besakih, gn Agung, Bali. Tim IARES Banten (YD1UIQ/9 dkk) dibantu oleh YC9DS dan YC9B0B. Tim IARES Banten mendukung kegiatan pencarian kedua pendaki muda (pria dari Cilegon, Banten, dan wanita dari Jakarta) yang hilang sejak akhir Desember 2007 di gn Agung. Semula para pendaki berjumlah tiga orang. Pendaki pria dari Palembang sudah terlebih dahulu ditemukan mati pada bulan Januari 2008 di gn Agung. YB1YA dari Cilegon via Internet gateway Krakatau Steel Cilegon selalu memonitor dan mencatat laporan harian kegiatan di Pura Besakih, gn Agung dan kota2 lain di Bali. Tim IARES Banten telah kembali ke Banten pd hari Jumat yl.
Kemarin hari Sabtu pagi saya dihubungi oleh YC9UBI/3 via SMS bhw Situbondo, JaTim, dan sekitarnya diserang banjir setinggi 2m. Dilaporkan sekitar 500 rumah rusak. YC9UBI/3 berama tim TAGANA kembali beroperasi di Situbondo. Laporan tsb saya tembuskan ke YB0AA, YB3JF, YB3FY, YB3JBJ dan YD3DY. Spt di Pasuruan, di Situbondo YC9UBI/3 dan relawan2 TAGANA menggunakan radio VHF untuk kodrat antar mereka. Untuk kodrat keluar kota mereka menggunakan SMS. Dua hari terkahir ini pulsa SMS mereka sudah menipis dan tidak ada supply pulsa dari Situbondo krn akibat banjir. Mereka sekarang sangat tergantung dng supply pulsa dari luar Situbondo yg sulit diperoleh. Mereka mengalami kesulitan qso via simplex gateway rptr di Malang maupun duplex gateway rptr YC3ZAZ di bukit Pananjakan gn Bromo. Terlalu jauh jaraknya dan dihalangi oleh gn Argopuro. Propagasi darat tidak menguntungkan ke arah rptrs.
Kemarin YB0AA telah merespond dng menembuskan laporan tsb ke pemerintah pusat dan Orda Jatim guna siaga bantuan kodrat. YB3JF kemarin sedang mobile ke Jawa Tengah jauh dari servernya di Sidoarjo Baru. Sedangkan YD3DY dan AB2QV kemarin via server JaTim sempat melakukan review perlunya mendukung kegiatan kodrat YB9UBI/3. Tadi siang YC2RCJ via simplex gateway Sby Utara dan AB2QV sempat membicarakan kemungkinan menggalang relawan2 kodrat dari lokal2 Situbondo, Panarukan, Bondowoso dan sekitarnya. Untuk monitoring kegiatan2 tim IARES dan tim TAGANA di Situbondo dibutuhkan rptr dan gateway di daerah eks karesidenan Besuki. Jika ada operator di daerah tsb yang bisa setup eqso gateway dan membantu relay dari relawan2 di lapangan tentu akan sangat menolong.
Demikian update informasi ttg kegiatan kodrat di Jawa Timur.
Tks n 73 de ab2qv.
URGENT: IARES PASURUAN + TRC TAGANA JATIM KOMPAK: Banjir Pasuruan
Dear all,
Berita banjir bandang ke saya ber-tubi2 via sms bbrp jam yl dari bro Ibrahim daSilva YC9UBI TRC Tagana Jatim dan Ka Orlok Pasuruan bro Lukas YC3RBN. Tim Tagana sudah di daerah banjir Pasuruan (Rejoso, Winongan dan Grati) dan Pasuruan. IARES Pasuruan di bawah koordinasi OM Lukas YC3RBN sdh menghubungi banyak anggota2 ORARI setempat. Dilaporkan bhw ada 2 AR yg rumahnya terkena banjir yaitu, mbak Anjas Sukarsih YC3DHQ di Winongan, Pasuruan selatan, dan YD3HKF di Kedawung Pasuruan timur. Kedua keluarga selamat. YD3HLH dr Tagana Pasuruan beserta tim sdh brd di lapangan. Saya membantu koordinasi jarak jauh antara YC9UBI TRC Tagana Jatim, YC3RBN Orlok Pasuruan dan YD3HLH Tim Tagana Pasuruan berserta relawan lainnya.
Mohon bantuan rekan2 relawan IARES JATIM YB3JF, YB3KM, YB3ROM, YB3BB, YB3BIO, YB3IK, YB3SHF, YB3JBJ, YB3YC3XHL, YC3RCJ, YC3RZ, YC3SM, YC3DY dll jika ada waktu silakan membantu Pasuruan dan Probolinggo.
Terimakasih banyak atas kerjasama dan keikhlasan semua relawan di Jatim. Bravo IARES - Orari - Tagana! Salam kompak selalu! Semoga sikon segera kembali normal.
HP YC9UBI Ibrahim: 085735449234 dan membawa mobile VHF rigs.
HP YC3RBN Lukas: 0811362950 dan standby di VHF/UHF/HF.
Flexi YC3DHQ Anjas Sukarsih: 343-7602138 (sulit dihub dr Amrik)
Berita banjir bandang ke saya ber-tubi2 via sms bbrp jam yl dari bro Ibrahim daSilva YC9UBI TRC Tagana Jatim dan Ka Orlok Pasuruan bro Lukas YC3RBN. Tim Tagana sudah di daerah banjir Pasuruan (Rejoso, Winongan dan Grati) dan Pasuruan. IARES Pasuruan di bawah koordinasi OM Lukas YC3RBN sdh menghubungi banyak anggota2 ORARI setempat. Dilaporkan bhw ada 2 AR yg rumahnya terkena banjir yaitu, mbak Anjas Sukarsih YC3DHQ di Winongan, Pasuruan selatan, dan YD3HKF di Kedawung Pasuruan timur. Kedua keluarga selamat. YD3HLH dr Tagana Pasuruan beserta tim sdh brd di lapangan. Saya membantu koordinasi jarak jauh antara YC9UBI TRC Tagana Jatim, YC3RBN Orlok Pasuruan dan YD3HLH Tim Tagana Pasuruan berserta relawan lainnya.
Mohon bantuan rekan2 relawan IARES JATIM YB3JF, YB3KM, YB3ROM, YB3BB, YB3BIO, YB3IK, YB3SHF, YB3JBJ, YB3YC3XHL, YC3RCJ, YC3RZ, YC3SM, YC3DY dll jika ada waktu silakan membantu Pasuruan dan Probolinggo.
Terimakasih banyak atas kerjasama dan keikhlasan semua relawan di Jatim. Bravo IARES - Orari - Tagana! Salam kompak selalu! Semoga sikon segera kembali normal.
HP YC9UBI Ibrahim: 085735449234 dan membawa mobile VHF rigs.
HP YC3RBN Lukas: 0811362950 dan standby di VHF/UHF/HF.
Flexi YC3DHQ Anjas Sukarsih: 343-7602138 (sulit dihub dr Amrik)
Wyn W. Purwinto
Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Penanggulangan Bencana .
Oleh Ibrahim Da silva Angg. : Tagana 16050458. DIV Tim R4eaksi Cepat
Saat bencana gempa dan tsunami terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004,
tidak banyak orang yang tahu apa yang sebetulnya terjadi. Badan
Meteorologi dan Geofisika hanya mencatat gempa dengan kekuatan 6,5
skala richter (9 skala richter menurut US Geology Service). Media
massa baru tersadar betapa dahsyat musibah yang terjadi pada beberapa
jam kemudian. Ketika Banda Aceh dan wilayah lainnya di Propinsi NAD
tersapu tsunami yang mengerikan.
Keterlambatan ini akibat putusnya hampir seluruh infrastruktur
telekomunikasi. Listrik padam, telepon tidak dapat digunakan. Baru
beberapa hari kemudian listrik dan telepon dapat berfungsi secara
terbatas. Baik karena kerusakan maupun hilangnya para karyawan
perusahaan penyedia fasilitas umum tersebut.
Pers sebenarnya cukup cepat memasuki Banda Aceh untuk melakukan
peliputan. Namun terkendala pengiriman data, baik teks, gambar,
apalagi video. Proses pengiriman gambar dan data harus melalui kurir.
Media fisik dibawa ke kota terdekat, Medan dan baru dikirimkan secara
digital ke seluruh penjuru dunia.
Perlahan, infrastruktur telekomunikasi di Banda Aceh dipulihkan.
Telkom, Indosat/Satelindo, Telkomsel berupaya keras memperbaiki
jaringan mereka. Namun, prioritas utamanya adalah voice, terutama
dengan teknologi wireless (GSM/CDMA) yang relatif lebih cepat
diselenggarakan dan mampu melayani wilayah yang luas, untuk
menggantikan sebagian besar jaringan kabel yang hancur.
Bila akses voice bisa cepat diselenggarakan, tidak demikian dengan
transmisi data. Terbatasnya kapasitas saluran adalah isu yang
menyulitkan pengiriman data. Sementara, di abad informasi ini, suara
saja tidaklah cukup untuk menampilkan kondisi Aceh yang sesungguhnya.
Karena sebagian besar media telah berbasiskan teknologi dan media
digital. Mereka membutuhkan transmisi data, utamanya melalui Internet.
Akses Internet melalui saluran telepon kabel (DOV - Data Over Voice)
dirasakan lamban karena kapasitasnya sangat terbatas. Sementara akses
broadband seperti ADSL/HDSL jelas tidak tersedia karena hancurnya
kabel primer Telkom dan juga keterbatasan jalur (trunk) link backbone
ke luar Aceh.
Alternatif transmisi data menggunakan telepon satelit kapasitasnya
hanya 2,4 kbps. Jelas tidak mencukupi, sementara teknologi lain juga
tidak mungkin diselenggarakan dalam waktu singkat, misalnya fiber
optik. Sehingga pilihan paling memungkinkan adalah menggunakan
teknologi VSAT (Very Small Apperture Terminal) sebagai backbone
digabungkan Wireless LAN (WLAN) untuk distribusi domestik.
Pertanyaannya, seberapa cepat fasilitas VSAT dibangun dan apakah
pendukungnya tersedia (pasokan listrik, SDM dan mobilitas)? Sebuah
VSAT portable berukuran dish 2.4 m mampu mentransfer data hingga T1/
1,5 Mbps (mega bits per seconds). Dilengkapi perangkat terminal akses
notebook dan pasokan daya dari generator 500 VA, beratnya hanya
sekitar 500 kg termasuk 2 teknisi. Mobilitas cukup dilayani sebuah
mobile unit atau diangkut oleh helikopter. Instalasi hanya memerlukan
waktu kurang dari 4 jam.
Dengan teknologi ini, di daerah yang terpencil dan minim fasilitas
sekalipun akses Internet dapat terselenggara dengan cepat.
Keterbatasan pasokan daya, misalnya, tidak akan menghalangi transmisi
karena internet dapat diaktifkan secara intermittent, periodik, on
demand atau tidak harus terkoneksi 24 jam. Fasilitas ini dapat
berhemat dengan cara penggunaan hanya pada saat dibutuhkan saja yang
bisa dijembatani dengan metode penjadwalan manual sehingga mampu
bertahan selama 1 minggu dengan BBM 25 liter.
Banyak yang mempertanyakan kegunaan Internet dalam situasi semacam
ini. Orang seringkali tidak menyadari Internet adalah muara besar
yang menghimpun aplikasi digital. Internet adalah wujud konkrit
konvergensi teknologi. Internet mampu melakukan transmisi informasi
dan data interaktif, termasuk menyelenggarakan kebutuhan
telekomunikasi dasar (voice) melalui teknologi VOIP (Voice Over
Internet Protocol). Bencana Aceh pada sisi lain membawa hikmah,
teknologi internet terbukti mampu menyebarkan data dan informasi
secara digital ke seluruh penjuru dunia secara cepat bahkan real time
dalam bentuk multimedia.
Penanganan bencana di Aceh dan Sumut merupakan pekerjaan sangat
besar. Ini adalah bencana terbesar sepanjang sejarah Republik
Indonesia, bahkan dalam sejarah dunia karena meliputi hampir seluruh
kawasan Asia Selatan dan mencapai Afrika. Lebih 200 ribu korban dan
ratusan ribu pengungsi, masalah logistik, penyaluran bantuan menjadi
hal yang sangat vital. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bantuan dari
seluruh dunia, hanya bertumpuk di sudut Bandara Halim ataupun Polonia
dan juga di Iskandar Muda. Meskipun bantuan terus mengalir dan di
lapangan banyak pos pengungsian yang kekurangan logistik. Ini
menandakan kekacauan pada manajemen logistik dan distribusi.
Penggunaan sistem informasi harus diterapkan dalam penanganan bencana
ini. Dengan sistem informasi yang baik, dapat dilakukan penentuan dan
prioritas distribusi bantuan ke daerah yang tepat serta jenisnya.
Bantuan bisa mengalir dengan merata, tidak tertumpuk hanya di salah
satu pos distribusi.
Sistem ini bisa memprediksi jumlah bantuan yang dibutuhkan di tiap
titik distribusi, berdasarkan data pengungsi yang ditampung.
Perbedaan jenis kelamin, usia, akan turut membedakan barang yang
harus dikirimkan. Tempat pengungsian yang dihuni banyak wanita, tentu
lebih banyak membutuhkan keperluan wanita, sementara tempat yang
banyak menampung bayi, tentu akan membutuhkan susu dan makanan bayi.
Termasuk kuantitas, jenis obat dan layanan medik yang diperlukan.
Keterbatasan transportasi pun bisa diatasi dengan memberlakukan
penjadwalan yang akurat untuk setiap kepentingan mobilitas operasi
kemanusiaan. Karena data yang tersaji bisa menunjukkan prioritas
kebutuhan, maka dengan mudah otoritas transportasi baik udara, laut,
darat dan domestik menentukan siapa yang harus segera dimobilisasi,
apa jenis dan jumlah barang yang harus dikirim menggunakan alat
transportasi yang paling sesuai.
Sistem informasi penanggulangan bencana bisa digunakan juga untuk
pendataan korban dan pengungsi. Banyak orang dari seluruh pelosok
Indonesia berduyun-duyun berusaha terbang ke Aceh, hanya untuk
mencari informasi keselamatan keluarga atau kerabat. Ini menghambat
proses pengiriman relawan dan bantuan, transportasi udara ataupun
darat yang sangat terbatas dengan cepat tersaturasi. Ini tidak perlu
terjadi apabila arus informasi dari Aceh bisa dipublikasikan luas
dengan basis identifikasi yang jelas (nama, jenis kelamin, umur,
alamat dst. status korban), yang terupdate real time dari waktu ke
waktu.
Salah satu hal yang juga dapat dilakukan dengan sistem informasi ini
adalah pencarian keluarga yang hilang. Banyak anak yang terpisah dari
orang tuanya, dan dipelihara di pos pengungsian seperti layaknya anak
yatim piatu. Banyak orang tua yang mencari anaknya, karena saat
bencana terjadi, terpisah dan entah di mana keberadaannya. Pendataan
pengungsi yang akurat, bisa menjembatani terpisahnya keluarga-
keluarga ini. Mereka tinggal mencari pada data tabulasi, berdasarkan
nama, tanggal lahir, ataupun asal desa. Data P4B yang dimiliki oleh
KPU dan BPS bisa dijadikan data awal untuk membangun sistem informasi
ini.
Tentu saja data ini memerlukan analisa dan verifikasi yang bisa
dilakukan sejak dari pos terdepan yang terdiri dari para relawan
selaku operatif yang langsung bersinggungan dengan masyarakat korban
bencana. Data selanjutnya ditabulasi di data center daerah setiap
hari untuk ditampilkan secara online di Internet dan langsung bisa
dikutip oleh media (feeding). Hasil tabulasi ini bisa digunakan pula
oleh semua intansi terkait untuk menentukan prioritas kontingensi
masing-masing. Sehingga seluruh kekuatan bantuan bisa bekerja secara
sinergis, tidak terjadi overlap yang berlebihan.
Data yang tersaji detail juga akan meningkatkan kredibilitas dan
akuntabilitas keseluruhan operasi kemanusiaan ini terutama dihadapan
dunia internasional. Otoritas tanggap darurat dapat melakukan
kegiatan public relation melalui konferensi pers yang lebih simpatik
dan percaya diri, karena memiliki basis data yang akurat, bukan hanya
berdasarkan angka namun juga statistik detail.
Sistem informasi ini perlu ditunjang infrastruktur data yang harus
bisa dibangun cepat dan ekonomis. Selain VSAT , salah satu pilihan
yang bisa dipakai adalah teknologi wireless local area network
(Wireless Lan). WLAN memungkinkan terwujudnya jalur-jalur data dengan
radius 10 km. Titik-titik penting seperti bandara, pelabuhan, pos
pengungsian, kantor-kantor LSM dan NGO yang terlibat dalam
penanggulangan bencana dapat dihubungkan sehingga dapat melakukan
interkoneksi akses data dan pertukarannya, selain untuk menginput
data yang mereka miliki.
Bencana Aceh memang sudah lewat. Namun kepedihannya masih akan terus
terasa. Proses penanggulangan Aceh mungkin masih akan memakan waktu
beberapa bulan ke depan, bahkan mungkin lewat dari waktu 1 tahun.
Jika sistem yang bisa menangani bencana ini belum tersedia,
sekaranglah saatnya untuk memulai pembuatan sistem ini. Diperlukan
kerjasama tim yang baik, mulai dari sistem analis, programmer, ahli
database, dan ahli jaringan. Saatnya komunitas IT tidak hanya duduk
dan mendengar setiap berita demi berita, namun juga berbuat untuk
menyiapkan sistem yang bisa digunakan. Bukan berharap, namun bencana
bisa jadi terjadi lagi. Dan saat itu sebaiknya kita sudah siap.
Saat bencana gempa dan tsunami terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004,
tidak banyak orang yang tahu apa yang sebetulnya terjadi. Badan
Meteorologi dan Geofisika hanya mencatat gempa dengan kekuatan 6,5
skala richter (9 skala richter menurut US Geology Service). Media
massa baru tersadar betapa dahsyat musibah yang terjadi pada beberapa
jam kemudian. Ketika Banda Aceh dan wilayah lainnya di Propinsi NAD
tersapu tsunami yang mengerikan.
Keterlambatan ini akibat putusnya hampir seluruh infrastruktur
telekomunikasi. Listrik padam, telepon tidak dapat digunakan. Baru
beberapa hari kemudian listrik dan telepon dapat berfungsi secara
terbatas. Baik karena kerusakan maupun hilangnya para karyawan
perusahaan penyedia fasilitas umum tersebut.
Pers sebenarnya cukup cepat memasuki Banda Aceh untuk melakukan
peliputan. Namun terkendala pengiriman data, baik teks, gambar,
apalagi video. Proses pengiriman gambar dan data harus melalui kurir.
Media fisik dibawa ke kota terdekat, Medan dan baru dikirimkan secara
digital ke seluruh penjuru dunia.
Perlahan, infrastruktur telekomunikasi di Banda Aceh dipulihkan.
Telkom, Indosat/Satelindo, Telkomsel berupaya keras memperbaiki
jaringan mereka. Namun, prioritas utamanya adalah voice, terutama
dengan teknologi wireless (GSM/CDMA) yang relatif lebih cepat
diselenggarakan dan mampu melayani wilayah yang luas, untuk
menggantikan sebagian besar jaringan kabel yang hancur.
Bila akses voice bisa cepat diselenggarakan, tidak demikian dengan
transmisi data. Terbatasnya kapasitas saluran adalah isu yang
menyulitkan pengiriman data. Sementara, di abad informasi ini, suara
saja tidaklah cukup untuk menampilkan kondisi Aceh yang sesungguhnya.
Karena sebagian besar media telah berbasiskan teknologi dan media
digital. Mereka membutuhkan transmisi data, utamanya melalui Internet.
Akses Internet melalui saluran telepon kabel (DOV - Data Over Voice)
dirasakan lamban karena kapasitasnya sangat terbatas. Sementara akses
broadband seperti ADSL/HDSL jelas tidak tersedia karena hancurnya
kabel primer Telkom dan juga keterbatasan jalur (trunk) link backbone
ke luar Aceh.
Alternatif transmisi data menggunakan telepon satelit kapasitasnya
hanya 2,4 kbps. Jelas tidak mencukupi, sementara teknologi lain juga
tidak mungkin diselenggarakan dalam waktu singkat, misalnya fiber
optik. Sehingga pilihan paling memungkinkan adalah menggunakan
teknologi VSAT (Very Small Apperture Terminal) sebagai backbone
digabungkan Wireless LAN (WLAN) untuk distribusi domestik.
Pertanyaannya, seberapa cepat fasilitas VSAT dibangun dan apakah
pendukungnya tersedia (pasokan listrik, SDM dan mobilitas)? Sebuah
VSAT portable berukuran dish 2.4 m mampu mentransfer data hingga T1/
1,5 Mbps (mega bits per seconds). Dilengkapi perangkat terminal akses
notebook dan pasokan daya dari generator 500 VA, beratnya hanya
sekitar 500 kg termasuk 2 teknisi. Mobilitas cukup dilayani sebuah
mobile unit atau diangkut oleh helikopter. Instalasi hanya memerlukan
waktu kurang dari 4 jam.
Dengan teknologi ini, di daerah yang terpencil dan minim fasilitas
sekalipun akses Internet dapat terselenggara dengan cepat.
Keterbatasan pasokan daya, misalnya, tidak akan menghalangi transmisi
karena internet dapat diaktifkan secara intermittent, periodik, on
demand atau tidak harus terkoneksi 24 jam. Fasilitas ini dapat
berhemat dengan cara penggunaan hanya pada saat dibutuhkan saja yang
bisa dijembatani dengan metode penjadwalan manual sehingga mampu
bertahan selama 1 minggu dengan BBM 25 liter.
Banyak yang mempertanyakan kegunaan Internet dalam situasi semacam
ini. Orang seringkali tidak menyadari Internet adalah muara besar
yang menghimpun aplikasi digital. Internet adalah wujud konkrit
konvergensi teknologi. Internet mampu melakukan transmisi informasi
dan data interaktif, termasuk menyelenggarakan kebutuhan
telekomunikasi dasar (voice) melalui teknologi VOIP (Voice Over
Internet Protocol). Bencana Aceh pada sisi lain membawa hikmah,
teknologi internet terbukti mampu menyebarkan data dan informasi
secara digital ke seluruh penjuru dunia secara cepat bahkan real time
dalam bentuk multimedia.
Penanganan bencana di Aceh dan Sumut merupakan pekerjaan sangat
besar. Ini adalah bencana terbesar sepanjang sejarah Republik
Indonesia, bahkan dalam sejarah dunia karena meliputi hampir seluruh
kawasan Asia Selatan dan mencapai Afrika. Lebih 200 ribu korban dan
ratusan ribu pengungsi, masalah logistik, penyaluran bantuan menjadi
hal yang sangat vital. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bantuan dari
seluruh dunia, hanya bertumpuk di sudut Bandara Halim ataupun Polonia
dan juga di Iskandar Muda. Meskipun bantuan terus mengalir dan di
lapangan banyak pos pengungsian yang kekurangan logistik. Ini
menandakan kekacauan pada manajemen logistik dan distribusi.
Penggunaan sistem informasi harus diterapkan dalam penanganan bencana
ini. Dengan sistem informasi yang baik, dapat dilakukan penentuan dan
prioritas distribusi bantuan ke daerah yang tepat serta jenisnya.
Bantuan bisa mengalir dengan merata, tidak tertumpuk hanya di salah
satu pos distribusi.
Sistem ini bisa memprediksi jumlah bantuan yang dibutuhkan di tiap
titik distribusi, berdasarkan data pengungsi yang ditampung.
Perbedaan jenis kelamin, usia, akan turut membedakan barang yang
harus dikirimkan. Tempat pengungsian yang dihuni banyak wanita, tentu
lebih banyak membutuhkan keperluan wanita, sementara tempat yang
banyak menampung bayi, tentu akan membutuhkan susu dan makanan bayi.
Termasuk kuantitas, jenis obat dan layanan medik yang diperlukan.
Keterbatasan transportasi pun bisa diatasi dengan memberlakukan
penjadwalan yang akurat untuk setiap kepentingan mobilitas operasi
kemanusiaan. Karena data yang tersaji bisa menunjukkan prioritas
kebutuhan, maka dengan mudah otoritas transportasi baik udara, laut,
darat dan domestik menentukan siapa yang harus segera dimobilisasi,
apa jenis dan jumlah barang yang harus dikirim menggunakan alat
transportasi yang paling sesuai.
Sistem informasi penanggulangan bencana bisa digunakan juga untuk
pendataan korban dan pengungsi. Banyak orang dari seluruh pelosok
Indonesia berduyun-duyun berusaha terbang ke Aceh, hanya untuk
mencari informasi keselamatan keluarga atau kerabat. Ini menghambat
proses pengiriman relawan dan bantuan, transportasi udara ataupun
darat yang sangat terbatas dengan cepat tersaturasi. Ini tidak perlu
terjadi apabila arus informasi dari Aceh bisa dipublikasikan luas
dengan basis identifikasi yang jelas (nama, jenis kelamin, umur,
alamat dst. status korban), yang terupdate real time dari waktu ke
waktu.
Salah satu hal yang juga dapat dilakukan dengan sistem informasi ini
adalah pencarian keluarga yang hilang. Banyak anak yang terpisah dari
orang tuanya, dan dipelihara di pos pengungsian seperti layaknya anak
yatim piatu. Banyak orang tua yang mencari anaknya, karena saat
bencana terjadi, terpisah dan entah di mana keberadaannya. Pendataan
pengungsi yang akurat, bisa menjembatani terpisahnya keluarga-
keluarga ini. Mereka tinggal mencari pada data tabulasi, berdasarkan
nama, tanggal lahir, ataupun asal desa. Data P4B yang dimiliki oleh
KPU dan BPS bisa dijadikan data awal untuk membangun sistem informasi
ini.
Tentu saja data ini memerlukan analisa dan verifikasi yang bisa
dilakukan sejak dari pos terdepan yang terdiri dari para relawan
selaku operatif yang langsung bersinggungan dengan masyarakat korban
bencana. Data selanjutnya ditabulasi di data center daerah setiap
hari untuk ditampilkan secara online di Internet dan langsung bisa
dikutip oleh media (feeding). Hasil tabulasi ini bisa digunakan pula
oleh semua intansi terkait untuk menentukan prioritas kontingensi
masing-masing. Sehingga seluruh kekuatan bantuan bisa bekerja secara
sinergis, tidak terjadi overlap yang berlebihan.
Data yang tersaji detail juga akan meningkatkan kredibilitas dan
akuntabilitas keseluruhan operasi kemanusiaan ini terutama dihadapan
dunia internasional. Otoritas tanggap darurat dapat melakukan
kegiatan public relation melalui konferensi pers yang lebih simpatik
dan percaya diri, karena memiliki basis data yang akurat, bukan hanya
berdasarkan angka namun juga statistik detail.
Sistem informasi ini perlu ditunjang infrastruktur data yang harus
bisa dibangun cepat dan ekonomis. Selain VSAT , salah satu pilihan
yang bisa dipakai adalah teknologi wireless local area network
(Wireless Lan). WLAN memungkinkan terwujudnya jalur-jalur data dengan
radius 10 km. Titik-titik penting seperti bandara, pelabuhan, pos
pengungsian, kantor-kantor LSM dan NGO yang terlibat dalam
penanggulangan bencana dapat dihubungkan sehingga dapat melakukan
interkoneksi akses data dan pertukarannya, selain untuk menginput
data yang mereka miliki.
Bencana Aceh memang sudah lewat. Namun kepedihannya masih akan terus
terasa. Proses penanggulangan Aceh mungkin masih akan memakan waktu
beberapa bulan ke depan, bahkan mungkin lewat dari waktu 1 tahun.
Jika sistem yang bisa menangani bencana ini belum tersedia,
sekaranglah saatnya untuk memulai pembuatan sistem ini. Diperlukan
kerjasama tim yang baik, mulai dari sistem analis, programmer, ahli
database, dan ahli jaringan. Saatnya komunitas IT tidak hanya duduk
dan mendengar setiap berita demi berita, namun juga berbuat untuk
menyiapkan sistem yang bisa digunakan. Bukan berharap, namun bencana
bisa jadi terjadi lagi. Dan saat itu sebaiknya kita sudah siap.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)

